Mengajar Tanpa Bermaksud Menggurui

0
715
Suasana Malioboro yg lumayan 'sepi'.
Suasana Malioboro yg lumayan ‘sepi’ di siang hari.

 

Kota Jogja Sudah Sesak dengan Kendaraan Bermotor

Sejenak pikiran saya menerawang ke tahun 1990. Pertama kali kaki saya melangkah untuk tinggal di Jogja. Jalan-jalan protokol masih terasa lengang. Di jalanan pun masih banyak dijumpai sepeda onthel (sepeda angin). Berjalan kaki di atas trotoar masih terasa lumayan nyaman. Meski trotoar yang ada seringkali tertata tidak begitu rapi.

Suasana yang amat jauh berbeda 24 tahun kemudian. Hampir semua jalan protokol disesaki dengan kendaraan bermotor. Meski jalan sudah diperlebar, namun tak juga dapat mencegah macet di jam-jam sibuk. Tak banyak nampak pajalan kaki. Apalagi pengayuh sepeda angin. Semua berpacu mengejar sesuatu dengan kendaraan bermotor.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh D. Dwijoko Ansusanto, dkk., untuk meneliti karakteristik pola perjalanan di Kota Jogja. Digambarkan bahwa saat ini setiap 4 KK di Kota Jogja memiliki mobil. Setiap keluarga memiliki 1 atau lebih motor. Satu KK dihitung dengan rata-rata 3,5 jiwa penghuni. Itu dihitung dari jumlah kendaraan yang berplat Kota Jogja. Belum lagi jumlah kendaraan yang dibawa oleh para pendatang.

Hal tersebut tentu akhirnya akan menimbulkan masalah yang serius. Selain masalah kenyamanan dan keamanan berkendara. Dampak sosial lainnya pasti akan timbul tanpa bisa dibendung. Polusi akan menjadi ancaman yang serius. Dengan jumlah 260.000-an kendaraan bermotor (berplat AB kota saja) dapat diperkirakan berapa volume gas CO yang memenuhi ruang udara Kota Jogja.

 

Solusi terhadap Ancaman Polusi Udara

Kondisi yang dialami masyarakat Jogja tentu mau tidak mau harus secepatnya diberikan solusi. Gaya hidup metropolis yang saat ini menjadi tren sudah seharusnya dieliminasi. Bergerak tak berarti harus menggunakan jasa mesin (motor/mobil pribadi). Bergerak sehat dengan cara yang sehat dengan jalan kaki atau bersepeda adalah solusi cerdas. Atau gunakan kendaraan umum untuk mengurangi bahaya gas CO, jika cukup jauh dan bisa ditempuh dengan angkutan umum.

Penyediaan kendaraan umum yang pas-pasan bukan menjadi alasan utama. Bila peminat angkutan umum bertambah banyak, pasti akan ada upaya untuk mengimbanginya. Hanya pemerintah atau pihak swasta yang malas saja yang tak mau melihat peluang bisnis itu. Selain peluang bisnis, hal itu juga akan mendukung program gerakan #JogjaHijau. Berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor di jalan, berarti pula akan mengurangi dampak polusi udara.

Pemanfaatan peruntukan lahan seharusnya juga menjadi perhatian pihak pemerintah. Ekspansi pembangunan mall, hotel atau fasilitas umum dengan mengorbankan lahan hijau pasti berdampak buruk. Polusi udara seharusnya diantisipasi dengan penambahan ruang hijau. Bukan malah sebaliknya, burkurangnya lahan hijau dan bertambahnya ‘efek rumah kaca’ akibat pembangunan gedung-gedung baru.

Trans Jogja Alternatih Sehat Transportasi Hemat

Sebagaimana mana telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa harus ada solusi cepat dan cermat untuk mencegah polusi. Salah satu solusi yang diberikan oleh Pemerintah Kota Jogja khususnya, Pemprov DIY umumnya adalah dengan Bus Trans Jogja (Bus TJ). Sebagaimana diketahui, keberadaan Bus TJ saat ini sudah dianggap vital. Animo warga, mahasiswa/pelajar maupun wisatawan cukup positif. Apalagi untuk rute-rute tertentu yang dapat dikatakan jarang kosong. Kekosongan malah terjadi pada jumlah bus yang masih terbatas.

Kemudahan akses pembayaran atau dicapainya dari fsilitas umum cukup mendukung keberadaannya. Tarif terjangkau dan cukup murah (Rp. 3.000,-) menjadi pilihan praktis untuk penggunanya. Meski diakui bahwa, kurangnya dukungan transportasi umum penghubung ke halte-halte tertentu juga menjadi masalah. Belum lagi rute terbatas yang belum juga diberikan penambahan rute baru. Padahal dalam rencananya, di tahun 2014 ini direncanakan akan ditambah 14 rute baru. Namun sampai akhir tahun, belum juga ada realisasinya.

Tapi sekali lagi, bukan berarti kita harus menyalahkan keadaan. Justru berangkat dari keadaan seperti inilah kita berani memberi contoh. Kita memberi contoh sekaligus mengajarkan, bagaimana dapat menghargai kehidupan kita s endiri. Menggunakan fasilitas transportasi umum adalah perilaku kita untuk mendukung ‘gerakan hijau’. Belajar sehat dan hemat dari sendiri dengan mengajar tanpa bermaksud untuk menggurui.

Nah, berikut ini sekaligus saya berikan panduan praktis untuk bisa menikmati fasilitas Bus TJ. Kendaraan umum favorit saya saat berkeliling Kota Jogja. Apalagi jika saya berangkatnya dari Prambanan yang merupakan salah satu shelter (pemberhentian) terakhir Bus TJ.

Belilah Kartu Langganan TJ yg praktis dan murah.
Belilah Kartu Langganan TJ yg praktis dan murah.
Blogger Jogja seharusnya punya Karta Langganan TJ juga lho.
Blogger Jogja seharusnya punya Karta Langganan TJ juga lho.

Untuk praktisnya, Anda dapat membeli Kartu Langganan TJ yang dijual dengan nominal Rp. 25.000,- atau Rp. 50.000,-. Kartu ini cukup diminati juga oleh para wistawan. Sebab kartu ini juga bisa digunakan souvenis khas Jogja. Sebab desainnya cukup unik dan indah. Tapi bagi yang butuh untuk sekali jalan saja, Anda cukup membayar tunai kepada petugas.

Tinggal tempelkan kartu dan sabar menunggu.
Tinggal tempelkan kartu dan sabar menunggu.

Untuk masuk shelter, Anda cukup menempelkan kartu di mesin detektor. Setelah muncul tanda panah hijau, langsung deh masuk saja. Sebab kalau terlalu lama menunggu, palang pintu akan mngunci lagi. Ingat, bagi yang memeliki kartu langganan TJ atau kartu elektronik dari bank yang sudah bekerjasama ada beberapa promo menarik lho. Pada hari tertentu, akan dikenakan tarif yang murah banget bagi pemegang kartu elektronik bank tertentu. Lumayan kan? Bisa murah plus hemat.

Bercengkerama dg petugas untuk membunuh waktu.
Bercengkerama dg petugas untuk membunuh waktu.

Sambil menunggu bus TJ datang, tak ada salahnya Anda bercengkerama dengan petugas. Apalagi jika kita ingin bertanya arah atau rute. Pasti jika kita ramah, mereka akan lebih ramah lagi melayani kita. Bahkan, siapa tahu kita ditawari snack jika mereka punya persediaan dan wajah kita menunjukkan ekspresi kelaparan. He….7x.

Persilahkan ibu2 untuk duduk terlebih dahulu.
Persilahkan ibu2 untuk duduk terlebih dahulu.

Ingat, dahulukan perempuan tua, difabel atau ibu yang tengah mengandung saat duduk antre di halte. Begitu juga saat kita naik Bus TJ. Sebab kesediaan Anda untuk berbagi, menunjukkan kehormatan Anda sendiri. Tentu saja bagi Anda yang bawaannya ‘mabok’, untuk sementara bisa menjadi pengecualian.

Nah, cukup panjang lebar saya bercerita tentang moda transportasi keren Jogja ini. Selain murah, tentu saja menjadi ide cerdas untuk mengurangi polutan udara di Jogja. Sekaligus membelajarkan diri kita bersama-sama untuk hidup sehat dan mencintai lingkungan dengan mudah. Kalau tak dimulai dari diri kita? Mau memaksa siapa lagi?