Transportasi Publik: Cerita Orang Pinggiran Jogja

2
2709

Mari bercerita soal transportasi publik. Di belahan bumi manapun, manusia membutuhkan sarana transportasi agar dapat bepergian, bekerja, beraktivitas dan terhubung satu sama lain. Mau dengan kendaraan pribadi, atau moda transportasi publik selama perjalanan nyaman, aman, dan tepat waktu, kita tidak akan mempermasalahkan apapun. Lain halnya, jika banyak kendala muncul seiring dengan berjalannya waktu. Di Jogja sendiri, masalah transportasi masih belum beres hingga saat ini.

Saya tak perlu mencari contoh jauh-jauh. Sebagai penghuni Sleman utara yang beraktivitas di kota Jogja, setidaknya selama 15 tahun terakhir saya melihat banyak sekali perubahan di sepanjang Jalan Kaliurang. Ya, jalan inilah yang biasa saya gunakan sebagai akses utama dari rumah ke sekolah/kantor.

Dulu, di era 90-an akhir, jumlah pengguna kendaraan pribadi yang melintasi rute Jogja-Kaliurang belum sepadat saat ini. Sekarang? Saya tidak akan menjawab secara langsung, tapi, coba lihat suasana tempat parkir di tempat saya bekerja berikut ini.

Wow!! ๐Ÿ˜ฏ Ini baru satu hamparan lahan parkir, lho. Masih ada beberapa lagi yang lain. Terbayang, kan, apa jadinya jika semua sepeda motor ini keluar dari tempat parkir secara bersamaan? โ“

sepeda motor
area parkir sepeda motor penuh!

Gambar di atas seolah memberi ilustrasi sederhana mengenai tingginya angka peningkatan volume kendaraan pribadi di Jogja. Lalu, bila Jalan Kaliurang (dan jalan-jalan lain di Jogja) saat ini sering macet karena pengguna kendaraan pribadi, sebenarnya itu salah siapa? Masyarakat yang terlalu cuek atau pemerintah yang tidak cermat menyikapi?

Public transportation? Donโ€™t (just) blame one another! Think first ….

Menurut saya, masalah ini tidak akan pernah selesai jika di antara kita masih saling tuding. Di satu sisi, masyarakat tidak bisa begitu saja disalahkan karena memilih kendaraan pribadi. Masyarakat daerah pinggiran macam saya, misalnya, memilih sepeda motor karena jauh lebih fleksibel, pas untuk saya yang tingkat mobilitasnya tinggi. Saya tidak mungkin menggantungkan diri pada transportasi publik, sementara daerah yang harus saya capai belum terjangkau trayek transportasi publik manapun, seperti yang pernah saya singgung di postingan Antara Kalkulator Energi dan 20 Detik Terakhir.

Itu baru dari sisi belum tersedianya trayek. Belum lagi nominal harga dan keamanan. Rasanya belum sebanding dengan yang diterima pengguna. Ini seperti kisah teman saya, sebut saja Likha dan Lia.

Dua belas tahun lalu Likha berkuliah di UIN Sunan Kalijaga. Tiap kali berangkat ke kampus, ia menghabiskan sekitar Rp10.000,00. Belum lagi ketika perjalanan pulang. Maklumlah, keuangannya pas-pasan, sementara ia tak cukup sekali ganti angkutan.

โ€œLama-lama bisa tekor aku, bukannya jadi sarjana!โ€ begitu selorohnya kala itu.

Untunglah, ia tak gentar menghadapi harga angkot mahal dan akhirnya lulus sebagai sarjana.

Lain Likha, lain pula cerita Lia. Lia pernah kecopetan saat naik bus kota. Notebook-nya yang belum ada tiga bulan, digondhol copet. Aduh, kasihan sekali dia. ๐Ÿ™

Bukan itu saja yang dialami pengguna transportasi publik. Berdasar pengalaman saya, keterbatasan armada transportasi publik juga masih perlu dipikirkan solusinya. Dulu di tahun 2005-an, sepulang dari praktikum lapangan Budidaya Tanaman Tahunan, saya pernah kemalaman di jalan dan tidak memperoleh colt untuk pulang. Sudah barang tentu, saya turun dari bus rombongan praktikum pk. 19.00, sementara colt hanya narik penumpang sampai jelang Magrib. Alhasil, saya terpaksa menunggu jemputan adik.

Well, dari cerita-cerita itu, tersimpan beberapa masalah yang semestinya segera ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota maupun Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak elok bukan membiarkan persoalan transportasi menumpuk tanpa solusi? Kedengaran agak pesimis, mungkin. Namun demikian, saya percaya bahwa pemerintah sedang dalam proses perbaikan sistem transportasi. Seperti TransJogja yang diluncurkan tahun 2008 lalu. Setelah enam tahun beroperasi di kota Jogja, orang pinggiran semacam saya masih menunggu terealisasinya rencana TransJogja menjangkau Sleman utara. Atau juga rencana pembangunan trem dan kereta gantung, yang (menurut kabar dari Harian Jogja) sedang dalam tahap studi kelayakan.

Saya dan kita semua tentu berharap yang terbaik untuk Jogja. Bukan rahasia lagi, kota yang melegenda dan dikangeni oleh banyak orang ini membutuhkan interkoneksi yang baik sedari jantung ke daerah pinggirannya. Dengan dukungan infrastruktur dan teknologi yang memadai, kita berharap Jogja di masa depan tetap berhati nyaman dan istimewa sepanjang masa. Ya, semoga. ๐Ÿ™‚ย Donโ€™t (just) recycle! Think first ….

2 COMMENTS