Mari Melambat untuk Menyelamatkan Bumi

0
802

Jalan kaki

“Kok jalan kaki sih, Mbak?” Pertanyaan dengan nada heran tersebut sering diucapkan oleh pemilik warung atau salon di sekitar tempat tinggal saya. Mereka menganggap saya “orang aneh” karena hobi berjalan kaki di bawah terik matahari. Bagi lingkungan sekeliling saya, berjalan kaki bukan hal umum. Mereka memilih naik motor untuk sekadar membeli rokok di warung yang jaraknya kurang dari 500 meter. Teman sekantor saya pun selalu menolak ajakan untuk berjalan kaki ke warung saat makan siang. Menurut mereka, kami akan membuang banyak waktu jika jalan kaki.

Sebenarnya, yang aneh itu saya atau mereka? Selama ini saya memilih berjalan kaki untuk jarak dekat karena saya peduli kepada teman-teman lain yang tinggal di luar Jawa. Banyak daerah yang saya datangi belum terjamah oleh PLN. Di daerah tersebut, hanya penduduk yang kaya yang bisa membeli minyak untuk mesin dieselnya. Di daerah yang terjangkau oleh PLN pun, listrik seringkali mati. Bukankah sebagian besar listrik menggunakan minyak bumi? Saya berusaha tidak memboroskan sesuatu yang susah didapat orang lain. Menurut Kementrian ESDM, produksi minyak Indonesia yang dapat diolah di kilang dalam negeri hanya sekitar 649.000 bph. Sementara kebutuhan BBM dalam negeri mencapai 1,25 juta bph. Ini artinya ada defisit 608.000 bph per hari. Jumlah yang sangat besar bukan?

Apakah teman-teman ingat pelajaran IPA dulu? Tentang minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang berasal dari pelapukan sisa-sisa makhluk hidup? Karena proses pembentukannya memerlukan waktu jutaan tahun, bahan bakar tersebut masuk dalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Saat ini, minyak bumi dan gas alam menjadi sumber energi utama. Bagaimana jika kita kehabisan bahan bakar tersebut sebelum menemukan penggantinya?Sekarang saat yang tepat untuk mengurangi penggunaan minyak bumi. #Don’t (just) Recyle! Think First

Angkutan umum tua

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghemat minyak bumi. Kita bisa mulai dari diri mengubah pola konsumsi energi yang kita lakukan sehari-hari. Salah satunya dengan tidak berlama-lama saat memanaskan kendaraan. Kadang, orang sering tidak tahu jika hal tersebut membuang bensin. Kendaraan jaman sekarang sudah dilengkapi dengan Engine Control Module (ECM). Ia akan otomatis mengatur kebutuhan bahan bakar mesin. Jadi, terlalu lama memanaskan mesin itu sia-sia.

Cara lain untuk menghemat bahan bakar adalah dengan cara berkendara dengan baik. Dr Edzard Ruehe, tim leader SCP Indonesia, bercerita jika mobil di Jerman lebih hemat bahan bakar dibanding di Indonesia. Dengan seri mobil yang sama, sopir-sopir di Jerman bisa menghemat bahan bakar sekitar 30%. Kita juga bisa melakukan beberapa hal saat berkendara untuk menghemat bensin. Mulai dari mengemudikan kendaraan dengan lambat. Juga mengecek tekanan angin. Saat tekanan angin berkurang, kendaraan semakin berat dan berakibat pada pemborosan bensin. Ternyata, suka mengerem kendaraan secara mendadak juga membuang bensin. #Don’t (just) Resycle! Think First. Pikir ulang jika berkendara dengan terburu-buru.
Kereta api

Saat tidak terburu-buru, di luar kota saya lebih memilih untuk naik kendaraan umum. Selain karena ongkosnya lebih murah, saya menikmati berbaur dengan penduduk lokal. Selalu ada lebih banyak cerita saat naik kendaraan umum dibanding dengan naik kendaraan pribadi. Sayang, saya belum bisa menggunakan angkutan umum di Jogja. Rute bus kebanyakan hanya di daerah perkotaan saja. Banyak yang busnya tua dengan sopir ugal-ugalan. Terlalu berbahaya. Trans Jogja yang busnya bersih, jalurnya tidak efisien. Untuk berpindah dari rumah ke Malioboro saja saya butuh waktu lebih dari satu setengah jam. Tiga kali lebih lama daripada waktu yang saya butuhkan dibanding menggunakan motor.

Ada kalanya kita perlu melambat untuk mengurangi bahan bakar yang dipergunakan untuk transportasi. Saya sudah melakukan hal kecil ini, bagaimana dengan Anda?

Salam dan semoga hari ini indah,

Lutfi Retno Wahyudyanti