Gaya Hidup Sang Pewaris

0
326

Sumpek. Panas. Tidak tepat waktu. Armada yang kurang meyakinkan. Tarif yang tidak sesuai dengan fasilitas. Banyak kejahatan dan pelecehan. Keamanan dan kenyamanan kurang terjamin.
Inilah beberapa alasan kenapa banyak masyarakat kita berbondong-bondong meninggalkan kendaraan umum dan beralih menggunakan kendaraan pribadi.

Sebagai pengguna angkutan umum lebih dari satu dekade, saya sudah sering mendapati keadaan yang demikian. Belum lagi jika sedang di terminal atau stasiun, beberapa kali saya harus berhadapan dengan yang namanya calo. Pernah bahkan terpaksa membayar mahal karena memang kena calo. Saat itu saya berada di luar kota dan belum begitu paham rute.
Hal ini hampir-hampir membuat saya kapok untuk menggunakan angkutan umum, utamanya bus.
Namun semakin sering bepergian ala backpacker, saya semakin paham bahwa kendaraan umum ternyata jauh lebih hemat dibanding naik kendaraan pribadi. Setidaknya hemat dalam menyimpan tenaga. Selain bus saya juga sangat senang menggunakan armada kereta api. Pernah juga sekali naik kapal.

Dari semua transportasi umum yang ada, kereta api adalah yang paling asyik dan ekonomis menurut saya. Mungkin karena saya sering berimajinasi hal-hal romantis saat naik kereta. Setidaknya dengan naik kereta beberapa kali saya bisa mendapatkan beberapa pemandangan baru yang cocok untuk saya masukkan ke dalam novel yang saya garap. Lebih dari itu, naik kereta (utama kereta ekonomi) akan membawa  kita untuk mengenal sisi lain dari masyarakat dalam negeri.

Untuk kereta api sendiri, saya sudah menjadi pelanggannya kurang lebih empat tahun. Lebih lamaan berlangganan bus, sebab Gunungkidul belum dilalui jalur kereta api.

Baru-baru ini ada kereta listrik buatan dalam negeri yang akan diperasikan dari Solo Wonogiri. Menurut saya, ini sangat menarik. Andai ada jalur kereta api di Gunungkidul. Saya masih berharap hal ini. Entah kapan itu akan terwujud mengingat topografi yang bergunung-gunung.

Belakangan saya tahu bahwa menggunakan kendaraan umum sama dengan ikut melestarikan Bumi dan alam. Dengan berkendaraan umum, kita telah menekan sekian persen polusi.

Bayangkan andai setiap hari orang-orang mulai berangsur pindah ke kendaraan umum dan meninggalkan kendaraan pribadinya. Berapa banyak kiranya yang sudah kita sumbangkan untuk bumi kita?

Memang, dibanding dengan transportasi umum di luar negeri (utamanya Eropa), kendaraan umum yang ada di sini (Indonesia) jelas jauh dari segi apapun. Bahkan dari segi tampilan sekali pun.
Meski begitu, ada baiknya kita bersyukur.

Ada lho bagian dari daratan Indonesia bahkan belum tersentuh dengan moda transportasi umum. Tidak usah jauh-jauh, di pelosok Gunungkidul (DIY) pun masih ada yang kesulitan bepergian karena tidak adanya kendaraan umum. Tidak heran deh kalau mereka akhirnya membeli motor atau kendaraan pribadi lainnya untuk kepentingan mereka. Kalau sudah seperti ini keadaannya, bagaimana kita akan merubah kebiasaan atau gaya hidup mereka.

Bicara mengenai gaya hidup, tidak bisa lepas dengan yang namanya kehidupan sosial. Budata meniru orang lain agar dibilang selevel masih menjamur di tempat kita. Satu keluarga beli mobil, keluarga yang lainnya juga ikut-ikutan kredit mobil. Padahal kadang tidak sadar bahwa itu tidak terlalu penting. Semua dilakaukan hanya agar dianggap orang berada.
Kenyataannya, ukuran kekayaan seseorang tidak bisa dengan begitu saja dilihat dari belanjaan atau barang-barang yang dimilikinya. Justru kadang kita kecele, sebab seseorang kita anggap kaya karena dengan deretan mobil mewah dalam garasinya. Padahal belum tentu mobil-mobil itu sudah lunas atau malah mobil utangan.

Bumi dan Sang Pewaris

Sadarkah kita bahwa Bumi yang kita tempati semakin renta? Banyak penyakit yang mulai menggerogoti jiwa dan raganya. Lalu kita yang berada dalam posisi ‘sang pewaris’ sudahkah melakukan sesuatu yang mampu sedikit mereda sakit yang diderita sang Bumi?

Sebagai seseorang yang punya pemikiran lebih maju, tentu kita tidak bisa dengan begitu saja mempengaruhi orang lain. Yang terpenting adalah memulainya dari diri sendiri.

Saya sudah memulainya, bahkan sejak tahun-tahun lalu. Memanfaatkan transportasi umum yang ada. Karena saya pikir, selain menjaga kelestarian lingkungan, naik kendaraan umum juga sama halnya ikut berbagi rejeki kepada sopir dan kernetnya. [MIN]

Don’t (just) recycle! #jogjahijau #idejogja