Sejenak Menikmati Perjalanan

0
613

Saya sangat yakin sebagian besar dari kita, saat ini sudah tidak kesulitan lagi dengan yang namanya kendaraan.

Pernahkah kita tengok kanan kiri tetangga kita? Berapakah kendaraan pribadi yang dimiliki oleh masing-masing rumah? Satu, dua, lebih?

Bisa jadi. Bisa jadi satu rumah punya motor lebih dari satu, juga mobil. Terkadang jumlah motor berbanding lurus dengan penghuni rumah.

Seandainya, ini seandainya, memang setiap orang memiliki satu kendaraan pribadi, apa yang kira-kira akan terjadi? Kemacetan di jalan. Jalanan yang sumpek dan panas. Polusi udara yang semakin memprihatinkan. Dan berbagai dampak negatif lainnya. Itu pasti dan sekarang kita sedang dalam lingkaran dan kondisi tersebut.

Lalu, mungkinkah kita akan keluar dari lingkaran mengerikan itu?

Di keluarga saya, hanya ada satu motor. Meski hanya ada satu motor, kami tidak pernah mengalami kesulitan untuk berbagi. Jadi, kalau seandainya diadakan pengurangan jumlah kendaraan di rumah-rumah yang memiliki lebih dari satu kendaraan itu saya kira tidak akan berpengaruh besar pada aktivitas mereka.

Meski saya punya motor dan bisa memakainya, saya masih suka naik kendaraan umum. Hampir setiap ada kegiatan di Jogja, saya selalu memilih untuk naik bus dari Gunungkidul. Selain alasan keamanan, kenyamanan, juga karena ternyata naik kendaraan umum berarti ikut berpartisipasi dalam menjaga bumi. Saya sadar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari sesuatu yang mungkin tampak sepele, naik kendaraan umum.

Jika tempat acara dekat, misal kurang dari satu kilo meter, saya akan jalan kaki. Naik motor jika memang pas motor ada dan juga jarak yang lumayan.

Saya sering ditanya teman-teman, terkait kebiasaan saya naik bus. Saya tidak tahu apakah teman-teman itu ingin menertawakan saya dengan kebiasaan memakai kendaraan umum (sebuah bus yang tampak butut dan kurang nyaman) atau karena mereka benar-benar ingin tahu alasan saya.

Saya tidak malu mengakui bahwa dengan naik bus, saya harus menyiapkan waktu lebih panjang dibanding dengan naik kendaraan pribadi. Jarak tempuh yang bisa dicapai satu jam dengan motor, harus rela menjadi dua jam perjalanan karena menggunakan bus. Jika sebuah acara dimulai jam delapan pagi, maka saya harus berangkat paling siang jam enam pagi. Sebab kadang untuk mencapai satu tempat tujuan, saya perlu berganti bus paling tidak dua hingga tiga kali. Itu pun belum kalau tempat tujuan ternyata jauh dari jangkauan bus. Saya harus menyambungnya dengan jalan kaki.

Pernah suatu saat, saya naik bus dari Gunungkidul sampai Jogja. Karena saat itu hari Minggu, entah mengapa bus kota yang seharusnya saya naiki tidak ada yang lewat. Saya terpaksa jalan kaki kurang lebih empat kilo meter (saya masih ingat, jalan dari ringroad Ketandan sampai Babarsari).

Bagi saya tidak masalah. Sebab sejak kecil, ibu sudah mengajarkan jalan kaki hingga puluhan kilo meter.

Masalahnya, cuaca di kota Jogja saat itu ternyata tidak sesejuk cuaca di Gunungkidul. Belum lagi saya harus berjalan di pinggir jalan raya di mana di sana berseliweran segala macam kendaraan mulai dari motor, mobil, bus sampai truk molen.

Kaki-kaki saya tidak masalah, hanya sekujur badan berkeringat dan telinga agak-agak bengeng karena bising. Sampai di tempat tujuan, buru-buru saya mencari kipas angin untuk mengeringkan tubuh dan juga baju. Ajaib saya tidak masuk angin.

Pengalaman menyedihkan itu tidak lantas membuat saya kapok. Saya masih tetap setia dengan bus. Bahkan kernet sudah hafal dengan muka saya. Cukup dengan membayar lima ribu rupiah saya bisa menikmati perjalanan dari Gunungkidul sampai terminal Giwangan Yogyakarta. Mungkin karena sudah biasa naik bus tersebut jadi sudah dapat tarif khusus.

Jika ditanya, apa naik bus umum itu enak? Mungkin bagi sebagian orang akan menjawab bahwa naik bus umum sama dengan menjelma jadi sarden. Sumpek bahkan terkesan jorok. *ini karena di tempat kita, bus terlihat menyedihkan, coba kalau di luar negeri?*

Bagi saya, naik bus tidak melulu sumpek dan pengap. Sepanjang bus melaju, saya bisa menyandarkan badan. Jujur saya ini termasuk penumpang yang bisa dengan mudah tidur di atas bus. Mungkin karena sudah biasa. Sambil duduk nyaman, saya bisa mainan handphone atau melihat pemandangan sekitar. Hal ini akan sulit dilakukan jika saya menyetir.

Dibanding naik motor, naik bus bisa menghindarkan kita dari hujan dan panas. Juga tidak perlu repot-repot dengan kulit yang menghitam karena paparan sinar matahari. Di bus yang melaju pelan (kadang ugal-ugalan), kita bisa numpang istirahat sejenak. Juga tidak dituntut konsentrasi tinggi layaknya jika mengendarai kendaraan sendiri. Cukup berdoa dan membayar sesuai tarif.

Jangan lupa persiapkan juga masker atau penutup hidung karena tidak jarang udara di jalan sudah tercemar. Baik asap knalpot mau pun asap rokok.

Sayangnya, dan ini sangat sayang, saya tidak menutupi kenyataan bahwa armada bus umum yang ada saat ini terkadang memang jauh dari kata layak. Entah kapan bus-bus umum yang ada di Indonesia bisa sedikit mencontoh bus yang ada di Eropa. Saya masih menunggu saat-saat itu tiba.

Bahkan saya menyayangkan bus Trans Jogja yang belakangan kurang begitu nyaman. Belum lama ini saya naik bus Trans Jogja (kemarin dalam perjalanan ke Kopdar Kompas SPC di Benteng Vredeburg) ternyata di dalamnya banjir. Ini benar-benar perlu diperhatikan lagi oleh pengelola.

Sebagai pengguna kendaraan umum yang tergolong setia (sepuluh tahun lebih), saya berharap kedepan kondisi kendaraan umum lebih diperhatikan lagi. Kenyamanan dan keselamatan penumpang lebih diutamakan. Saya yakin jika dimulai bebenah dari sekarang, akan semakin banyak orang yang beralih ke kendaraan umum. Sebab banyak juga teman-teman yang terpaksa mengendarai kendaraan pribadi karena mereka merasa kendaraan umum tidak bisa memenuhi harapan mereka. Armadanya yang hampir seperti rongsokan. Kadang tidak tepat waktu. Juga jam operasional yang kurang. Biasanya jam enam sore waktu terakhir bus jurusan Jogja Gunungkidul. Sementara lebih dari jam enam masih banyak orang yang bekerja/ berkeliaran, kalau tidak pakai kendaraan pribadi, bagaimana mereka bisa pulang?

“Saya sebenarnya capek naik motor. Lebih memilih naik bus, tapi gimana lagi, saya sering ketinggalan bus,” curhat salah satu kawan saya.

Selain itu, dengan menggunakan kendaraan umum, kita berarti ikut melestarikan lingkungan. Menghemat bahan bakar sekaligus mengurangi polusi udara. Membungkam satu knalpot motor untuk udara yang lebih bersih. [MIN]

 

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recyle, think first”