Jangan Gengsi; Sebuah Momentum Baru

0
877

Belum lama ini saya menemani sepupu yang baru saja merayakan ulang tahun ke tujuh belasnya, untuk pergi mencari SIM (Surat Izin Mengemudi).

Sedikit lucu, pasalnya saya yang mengantar dan mengurusi segalanya bahkan belum pernah membuat SIM. Alasan belum membuat SIM tentu saja bukan karena umur, bukan pula karena uang, tapi lebih karena saya sampai saat ini masih betah menikmati yang namanya kendaraan umum; baik itu bus, angkot, kereta mau pun armada lainnya.

Usai mendapatkan SIM setelah antri hampir tiga jam, iseng saya bertanya-tanya kepada sepupu, “Ngapain cari SIM? Takut polisi? Kenapa juga mesti bawa motor, naik angkot, kan, bisa?”

Lalu sepupu menjawab dengan jujur, “Naik angkot itu sumpek. Desak-desakan. Nunggunya lama. Harus berangkat lebih pagi biar tidak telat. Mesti ganti dua kali. Enakan juga naik motor sendiri. Bisa milih jalan juga jam berapa mau berangkat.”

“Yakin cuma itu? Bukan karena malu naik angkot?” tanya saya lagi.

“Itu juga sih. Teman-teman banyak yang bawa motor sendiri. Malu kalau naik angkot sendiri.”

 

Usai tanya jawab yang menyerupai dialog novel tersebut, mendadak ingatan saya kembali ke masa-masa 10 tahun yang lalu. Saat itu saya masih sekolah SMP. Jarak rumah dengan sekolah kurang lebih lima kilo meter. Sepanjang ingatan, saya belum pernah berangkat atau pulang sekolah dengan naik kendaraan pribadi. Jaman itu angkot dan bus menjadi armada transportasi yang saya dan teman-teman gandrungi. Saat itu tidak perlu ada rasa malu jika pulang pergi dijemput oleh supir angkot.

Jika pulang kesorean atau angkot sudah tidak ada, tidak jarang kami jalan kaki. Beberapa teman yang rumahnya tidak dilewati angkutan umum justru setiap hari pergi pulang sekolah jalan kaki atau naik sepeda. Saat itu, kami nyaman-nyaman saja. Menyenangkan malah. Tidak ada rasa malu karena harus naik angkot atau jalan.

Rasanya berbeda jauh dengan hari ini. Pernah saya jumpai, anak remaja putus sekolah hanya gara-gara tidak dibelikan motor. Ia merasa malu kalau sekolah tidak bawa motor sendiri.

Ada juga yang justru putus sekolah karena uang biaya sekolah lebih baik digunakan untuk membeli motor. Harapannya dengan motor sendiri, ia akan lebih mudah mendapatkan penghasilan. Kenyataannya? Tidak selamanya seperti yang dibayangkan. Keberadaan ojek semakin tergerus keadaan dan jaman.

Saya geleng kepala, tidakkah kita sadar jika sikap tersebut hanya akan menimbulkan penyesalan di suatu hari kelak?

 

Sampai saat ini, ketika sebagian orang sudah ramai-ramai beralih dari angkutan umum ke kendaraan pribadi, saya masih tetap setia menunggu bus. Kadang ada rasa senewen juga ketika harus menunggu lebih dari sejam namun bus yang ditunggu tidak juga datang. Saya merasa sudah kehilangan waktu begitu banyak hanya untuk menunggu bus. Seandainya saya mau memakai motor sendiri pasti akan lain ceritanya.

 

Namun mengingat bahwa saya mudah lelah dan mengantuk, bus menjadi pilihan yang terbaik. Tidak mengapa jika harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.

Dalam sebulan bisa dihitung bahwa saya lebih banyak naik kendaraan umum dibanding dengan kendaraan pribadi.

 

Alasan saya naik bus adalah menghindari kelelahan dan cuaca yang tidak menentu di jalan. Lama-lama naik bus memang pilihan yang aman. Selama ini saya kemana-mana lebih banyak menggunakan kendaraan umum dari pada naik kendaraan pribadi. Baik di dalam atau luar kota.

Menjadi seseorang yang sudah langganan naik bus, awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa memakai kendaraan umum termasuk salah satu cara menjaga kelestarian Bumi. Pikir saya, naik bus ya naik bus saja, mengantarkan ke tempat tujuan. Tidak ada arahan untuk menjaga lingkungan.

Namun saya mulai tercerahkan. Baru-baru saya mendengar, membaca dan mencari info terkait dengan kendaraan umum yang ternyata efektif untuk ikut menjaga Bumi.

Secara ringkas, dengan seseorang meninggalkan motornya dan beralih menggunakan kendaraan umum, maka otomatis orang tersebut sudah ikut andil dalam menjaga lingkungan. Mesin motor yang mati tentu tidak memerlukan bahan bakar, artinya sudah menghemat sekian liter bensin. Jika motor tersebut tidak beroprasi, maka polusi udara akan berkurang sebab tidak ada gas yang dihasilkan. Bayangkan jika yang mematikan mesin motor lebih dari seratus orang.

 

Sebagai gambaran, katakanlah satu bus mampu menampung dua puluh sampai tiga puluh orang. Kita cukup menyalakan satu mesin (bus) dan mematikan dua puluh Sembilan mesin (motor) yang lain. Artinya, kita hanya memerlukan bahan bakar untuk satu bus dan udara akan terbebas dari kepulan asap dari dua puluh Sembilan motor.

 

Sebuah momentum

Mungkin apa yang saya uraikan sedikit membingungkan. Namun jika kita sudah mempraktekkannya di lapangan, saya rasa semuanya akan menjadi mudah.

Kalau sampai saat ini kita tidak mau naik bus karena alasan bus yang kurang layak, mungkin kita bisa cari solusinya bersama. Bisa jadi, kan, pengelola bus memang tidak ada dana tambahan untuk memperbaiki tampilan bus mereka sebab penumpangnya memang sudah jarang.

Seandainya penumpang masih banyak dan berduyun-duyun, bisa jadi pendapatan mereka bertambah dan itu artinya armada mereka bisa dibuat lebih kinclong dari yang sekarang ada.

Jika kita tengok sejenak Negara Eropa—asli saya tidak bermaksud membandingkan-bandingkan—kita akan mengerti kenapa di sana bus-bus dan kereta terlihat bagus juga masyarakatnya banyak yang menggunakan alat transportasi umum.

Mereka memilih kendaraan umum bukan hanya karena pajak kendaraan pribadi yang terlampau mahal, melainkan juga karena pemerintah dan masyarakat mereka sudah paham tentang pentingnya menjaga lingkungan. Pembelajaran tentang menjaga lingkungan sudah diterapkan dari hal-hal yang kita anggap sepele; misal naik kendaraan umum atau sepeda dari pada naik mobil pribadi, membiasakan memilah sampah, juga membuang minyak bekas (mereka tidak akan langsung membuangnya melainkan membekukannya dahulu).

 

So, kita yang ada di sini, diantara laut dan hutan yang lebat, tidakkah sebenarnya bisa melakukan hal-hal yang lebih?

Saya sudah memulainya. Setia naik kendaraan umum jika jalur yang ditempuh lumayan jauh. Juga lebih memilih jalan kaki dari pada naik motor jika jarak tempuh kurang dari satu kilo.

Mari membiasakan diri dengan semangat menjaga lingkungan. Tidak perlu gengsi dan malu jika yang kita lakukan adalah untuk masa depan Bumi kita. [MIN]

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recyle, think first”