Kelahiran Gajah di TSI II

0
838

Taman Safari Indonesia (TSI) 2 kembali berhasil mengembangbiakkan salah satu satwa langka dan dilindungi di Indonesia yaitu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Gajah tersebut lahir pada hari Kamis, 6 November 2014 dengan berat 83 kg dan tinggi 82 cm. Bayi gajah ini adalah anak dari betina bernama Siska (20 tahun) dan jantan bernama Subaru (40 tahun). Kelahiran gajah kali ini adalah yang kesepuluh di TSI II. Ketika anak gajah lahir, gajah-gajah lain di sekitarnya akan bersuara keras seolah-olah memberikan ucapan selamat atas lahirnya gajah tersebut. Menurut penuturan petugas, pada sekitar pukul 01:00 dini hari para gajah di dalam kandang berteriak-teriak sehingga diperkirakan anak gajah tersebut lahir sekitar jam tersebut. Induk dan bayi gajah tersebut sekarang berada dalam kandang khusus dan selalu dalam pemantauan keeper-keeper gajah (mahout) TSI II. Saat ini bayi gajah tersebut masih belum diberi nama.

Gajah Sumatera adalah sub spesies dari gajah asia yang tersebar dari India sampai Indonesia. Secara umum Gajah Asia memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari Gajah Afrika. Berbeda dengan Gajah Afrika yang memiliki gading panjang pada jantan dan betina, hanya Gajah Asia jantan saja yang memiliki gading panjang. Gajah merupakan satwa sosial dan hidup dalam kelompok yang terdiri dari betina dewasa dan anak-anak. Kelompok ini dipimpin oleh satu gajah betina yang dianggap paling senior dan berpengalaman. Gajah jantan yang beranjak dewasa akan diusir dari kelompok dan hidup soliter. Dalam hal perawatan anak, gajah akan saling membantu untuk mengasuh bahkan menyusui anak gajah lain.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Gajah Sumatera termasuk dalam kategori Critically Endangered atau sangat terancam punah, sehingga di Indonesia satwa ini dilindungi berdasarkan PP no 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar. Saat ini di Indonesia populasi Gajah Sumatera liar hanya bisa dijumpai di beberapa kawasan konservasi di Pulau Sumatera dan diperkirakan populasinya terus menurun karena kerusakan hutan. Oleh karena itu keberadaan lembaga konservasi ek situ sangat diperlukan untuk mendukung upaya pelestarian satwa tersebut. Kelahiran bayi gajah di TSI II ini merupakan kabar gembira bagi dunia konservasi di Indonesia karena merupakan bentuk keberhasilan upaya pelestarian satwa darat terbesar di Indonesia ini.