Si Penjaga Sumber Kehidupan: Bersahabat dengannya

5
1078

8 Kecamatan di Gunung Kidul kekurangan air bersih

Begitu berita yang disiarkan beberapa stasiun TV. Ironis memang. Gunung Kidul yang terkenal akan wisata airnya: pantai dan sungai, justru masyarakatnya banyak yang menderita kekurangan air bersih. Belum beranjak dari keprihatinan berita tersebut saya mendapati berita lain.

Salah seorang keponakan saya terpaksa mengungsi pulang karena asrama sekolahnya di daerah Sleman bagian Barat pun kekurangan air.

Miris ya. Ternyata  kekurangan air juga bisa mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.

***

Oktober akan berakhir, berganti November. Tak tahu mulai kapan tepatnya musim tidak bisa diprediksi. Air yang harusnya sudah  tercurah nampak malu-malu untuk turun. Suhu udara setiap harinya pun tinggil dengan stabil. Mungkin ini yang namanya ‘musim panas di bulan penghujan’.

Dari dua berita yang saya dengar sebelumnya, banyak orang yang ikut prihatin namun memaklumi. Musim kemarau, alasan pemakluman itu.

Lantas benarkah semua ini 100% karena ulah alam? Tanpa campurtangan kita didalamnya? Rasanya tidak adil jika kita menyerahkan semua tanggungjawab ini pada alam. Saya jadi ingat pengalaman beberapa tahun silam.

***

10 tahun yang lalu saya pindah ke Kota Gudeg ini. Pindah ke  daerah pinggiran Jogja membuat saya diberkahi alam yang masih menyehatkan dan sedap dipandang mata. Rumah saya tepat di tepi desa. Bisa dibilang rumah saya seperti ‘menyendiri’, jauh dari tetangga, dan  lebih dekat dengan barisan pohon kelapa, menteng, mangga, sawah, dan sungai kecil yang jernih.

Saya yang lama hidup di kota (ciee) pun terkena euforia sesaat pada suasana rumah baru. Manjat pohon, nemenin anak-anak kecil main layangan di sawah, sampai kecipak-kecipuk di sungai kecil. Ah menyenangkan 🙂

Entah ada sangkut pautnya kepindahan saya si anak kota (dulu) ke desa atau tidak. Yang pasti lingkungan yang saya tempati tiba-tiba berubah dalam kurun waktu cepat. Pembangunan mengubahnya. Dalam waktu 3 tahun semenjak kepindahan saya, sawah dan sungai kecil di sebelah rumah berubah menjadi  pasar, barisan pepohonan buah telah menjadi jalan beraspal, dan tiba-tiba pula saya punya banyak tetangga. Berita baiknya dari perubahan ini: harga tanah rumah saya ikut naik.

sawah berganti pasar
pemandangan depan rumah saya sekarang: dibalik tembok ini dulunya sawah yang berganti pasar

Beberapa waktu setelah pembangunan ini selesai, masuklah musim kemarau, berita kurang baik pun mengiringinya. Sumur, tempat keluarga saya dan para tetangga menggantungkan sumber kehidupan tiba-tiba ‘ngambek’ tak mau mengeluarkan air. Masalah ini pun segera menjadi isu serius di desa. Saya, keluarga, dan tetangga benar-benar merasakan syok. Untungnya tidak semua rumah kekeringan air. Hanya rumah yang berdekatan dengan tembok pasar yang mengalaminya. Akhirnya selama kekeringan itu kami menggantungkan sumber kehidupan dari sumur tetangga yang masih berair. Tetap saja tidak sama, saya dan keluarga yang biasanya berlimpah air harus ekstra hemat  untuk  masak, mandi, menyuci, ibadah.

Sampai akhirnya didapati fakta bahwa sumur-sumur rumah kami  kekeringan karena ‘kaget’. Iya, kaget karena tidak ada persiapan.  Lingkungan rumah yang semula pohon-pohon yang bisa menampung air saat itu menjadi jalan beraspal. Sawah yang bisa meresapkan air hujan pun menjadi pasar yang ber-conblock. Bahkan sungai kecil yang ada si sawah pun turut menjadi korban, diuruk dan ditutup. Sehingga saat musim kemarau sumur-sumur tersebut tidak memiliki cadangan air.

Akhirnya disepakati untuk menambah galian sumur, dan airpun kembali menghidupi kami. Namun, tidak berarti ini adalah solusi yang terbaik. Apakah setiap kemarau dan mengalami kekeringan harus menambah kembali kedalaman sumur, begitu seterusnya? Tentu tidak.

Mulai saat itu saya dan keluarga belajar menjadi bersahabat dengan penjaga sumber kehidupan kami, si sumur.

menjaga sumur
penjaga sumber kehidupan saya dan keluarga

Kami benar-benar tidak mau ‘dia’ ngambek lagi dan mendatangkan kekeringan. Cukup saat itu dan menjadi pelajaran berharga. Karena itu, sederet langkahpun saya dan keluarga lakukan untuk bersahabat dengan penjaga sumber kehidupan:

Yang pertama menghijaukan kembali lingkungan kami. Setelah pembangunan itu, lingkungan rumah memang menjadi gersang, hampir tidak ada pohon-pohon besar yang menjadi sumber penampung air. Atas kesadaran ini keluarga saya mulai menanam pepohonan besar. Yang dipilih adalah buah-buahan. Selain untuk menampung air, buahnya pun bisa dinikmati. Butuh waktu 3 tahun untuk membuat pepohonan ini merindangi halaman. Namun sekarang hasil yang kami dapat sangat memuaskan 🙂

hijau
pekarangan rumah yang meghijau kembali 🙂

Selanjutnya, mengontrol pemakaian air. Biasanya orang yang memiliki sumur sebagai sumber air punya gaya mandi yang khas, mandi dengan banyak air tanpa memperhitungkannya. Bahkan teman saya sesama pemilik sumur pernah bilang, kalau belum menghabiskan 1 bak (bak mandi di rumahnya besar) rasanya belum mandi.

Hasil survey yang dilakukan Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya pada 2006 menunjukkan setiap orang Indonesia mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 144 liter per hari. Dari sejumlah itu pemakaian terbesar untuk keperluan mandi, yakni sebanyak 65 liter per orang per hari atau 45% dari total pemakaian air.

Dulu pun saya begitu, sebelum merasakan bahwa punya sumur juga bisa kekeringan. Sekarang, saya jadi lebih mengontrol penggunaan air untuk ini. Bahkan kadang kebablasan ngga mandi #eh (jangan ditiru).  Selain mengontrol diri saat mandi, jangan lupa pula untuk membiasakan mematikan keran air sebelum luber. Untuk mengantisipasinya saya menyalakan keran jika sedang menggunakan kamar mandi, dan ketika keluar langsung mematikannya meski belum penuh.

matikan kran sebelum luber
matikan kran sebelum luber

Yang ketiga adalah menghemat air. Artinya bukan kita mengurangi konsumsi air minum ya. Yang ini sangat penting dan tidak boleh dikurangi. Menghemat di sini salah satunya menggunakan kembali sisa air yang sudah digunakan. Misalnya yang saya lakukan adalah menggunakan air sisa menyuci beras. Yang belum pernah, bisa dicoba. Saya biasanya bisa menampung sepanci air. Nah, air sisa cuci beras ini biasanya saya gunakan untuk dua hal.  Yang pertama untuk menyuci muka, biasanya bilasan pertama. Yang kedua untuk menyiram tanaman. Air bekas cucian beras yang biasa kita abaikan ternyata bisa mendatangkan fungsi lain untuk kecantikan alami dan media siram tanaman. Benar-benar #konsumsihijau bukan? 🙂

nyuci beras
nyuci beras
air sisa cucian beras
sepanci air sisa cucian beras

Yang terakhir, masih dalam proses, belum direalisasikan adalah rencana membuat lubang resapan biopori.

Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir R. Brata (wikipedia.com)

Dengan membuat lubang biopori ini kita bisa menabung resapan air. Setidaknya akan ada tambahan tabungan air saat kita menghadapi musim kemarau. Patut dicoba dan dilakukan.

Semoga bermanfaat

***

Jangan menyerahkan seluruh tanggungjawab pada alam. Hidup manusia dan alam saling berdampingan, saling mempengaruhi. Semoga kita bisa terus hidup berdampingan dengan baik, demi anak cucu kelak.

 

Avignam Jagad Samagram

Selamatlah seluruh alam beserta isinya

Salam,

 

Kachan

@iqhachan

 

#Don’t(just)recycle,thinkfirst #Jogjahijau #KonsumsiHijau #IdeHijau

sumber :

konsumsi air rata-rata: http://ciptakarya.pu.go.id/v3/?act=vin&nid=101

lubang biopori: http://id.wikipedia.org/wiki/Biopori

5 COMMENTS

    • iya, mbak ika, bahkan untuk kita yang wilayah tinggalnya masih bisa dibilang cukup air sudah agak langka. Di luar sana bahkan ada yang kekeringan+kurang pasokan air bersih :(( *#savewater untuk anak cucu*

  1. Save water…ayooooo…
    LAmongan kampung halamanku termasuk zona daerah yg jadi langganan kekeringan air kala musim kemarau. Tapi ALhamdulillah, kalau di rumah ortu ada sumur yg airnya mencukupi utk sehari-hari, juga bisa diambil oleh para tetangga.

    Penting Think first agar ketersediaan air stabil ya mbak.

    #Eh, akunku blm ada. Udah daftar tp gak dpt link aktifasinya sampai sekarang, bhkn sdh di ulang-ulang dftrnya *curco*