MANDI DENGAN GAYUNG ?

1
704

Perjalanan menuju wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste sungguh melelahkan. Ke arah Timur menggunakan pesawat selama 4 jam dan akhirnya tiba di Kupang, Ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur. Kota Kupang, dengan topografi relatif datar dan curam, memiliki struktur tanah berkapur, sehingga dijuluki kupang sebagai kota dengan batu bertanah. Delapan jam dilalui dengan perjalanan darat menuju Atambua.

Etalase wajah Negara Kesatuan Kesatuan Republik Indonesia(NKRI), terkenal dengan berbagai kebudayaan dan potensi alam laut, gunung, wisata dan kuliner. Sisi lain dari atambua adalah masyarakat yang hidup dalam wilayah kesulitan air. Adalah kecamatan Lamaknen yang berjarak 20 km ke arah tenggarah dengan Republik Demokrasi Timor Leste.

Kesempatan mengunjugi wilayah Lamaknen tak akan dilupakan karena suguhan visual alam menyenangkan mata dengan padang savana luas, keramahan masyarakat, dan medan menantang. Keanekaragaman hayati wilayah hanyalah segelintir keunuikan dari kenampakan wilayah perbatasan. Air adalah problematika pada wilayah tersebut. Akses untuk mendapatkan air masih amat sangat sangat susah. Untuk mendapatkan air, seseorang harus berjalan kaki 3-5 km dengan membawa jeringen air. Sulit mendapatkan air berbanding lurus dengan pola hidup, terutama sistem sanitasi lingkungan. Ketersedian toilet bersih belum sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat dengan bahasa Bunaq sebagai bahasa daerah. Keprihatinan akan semakin diperparah, kala kita melihat seorang anak kecil, harus berjalan kaki dan memikul jerigen air. Waktu bermain sebgai bagian mencarai identitas diri, akan tersita karena harus memenuhi kebutuhan air didalam rumah. Medan topografi yang sulit, dengan perkerasan jalan berbatu tajam, makin menambah penderitaan masyarakat.

Air merupakan sumberdaya vital yang absolut, tidak ada kehidupan yang eksis tanpa air. (Arjana, 2009). Tidak ada satupun makhluk hidup di permukaan bumi ini yang tidak membutuhkan air. Tumbuhan membutuhkan air ,agar senantiasa nampak segar, hewan membutuhkan air sehingga hewan tersebut dapat minum sehingga kebutuhan akan air terpenuhi dengan baik. Nilai air merupakan hakikat tertinggi daialam kehidupan. 80 % dari tubuh manusia adalah air, membuktikan bahwa manusia dan air adalah dua elemen hidup yang tak terpisahkan. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak . Air Minum (drinkng water) adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum

 

 

Bagaimana dengan kehidupan kaum Urban di Yogyakarta? Mahasiswa, kaum sosialita, pemerintah, pelaku usaha dan semua pelaku ruang berkumpul pada satu wilayah dengan predikat istinewa, belum sepenuhnya melaukan perilaku hemat akan air. Sepatutnya warga Yogya , harus bersyukur karena wilayahnya diapit oleh 3 sungai yaitu Code, Gajah Wong dan Progo, pemberi kesegaran bagi warganya. Masih banyak perilaku kita, tidak bersahabat dengan air. Mandi dengan menggunakan gayung, adalah salah satu kebiiasaan buruk, karena banyak air terbuat percuma tanpa membasahi tubuh. Dianjurkan untuk menggunakan shower, tapi masih terkendala dengan mahalnya harga shower. Dahulu kala, budaya Jawa, sudah menganjurkan mandi dengan menggunakan kendi, artinya satu kendi hanya dikhususkan bagi satu orang, sangat simpel dan rasional.

Kebiasaan boros air tidak belum menjadi kesadaran tiap elemen kota, padahal, jika dibandingkan dengan wilayah Lamaknen, sungguh sangat jauh bak lagit dan bumi, sulit dijangkau. Air limpasan hasil mandi sebenarnya masih bisa ditampung dan digunakan untuk kebutuhan lain, tapi sangat disayangkan, banyak air terbuang percuma, tanpa dimanfaatkan lagi. Jiwa dari air dalam kerpecayaan tradisional bisa saja menangis karena belum menjadi sahabat manusia, dibeberapa sudut kota, kita masih melihat beberpa pipa yang bocor, yang tidak diperbaiki. Hal ini terjadi karena kesadaran kita yang sangat rendah terhadap pemanfaatan air. Belajar dari negara-negara lain, presepsi malahnya nilai air, menjadikan air sebagai bahan yang eklusif. Andai saja wilayah kita sama seperti Lamaknen ? Akakkan kebiasaan boros air masih dilakukan ? Mungkin ia dan tidak, masih tergantung pada setiap pribadi.   Bangun kesadaran hemat air, lalu menjadi kebiasaan dan akan membudaya, yakin pasti bisa sobat, Bersabahatlah dengan air, anggaplah bagian dari jiwamu,

 

SAVE OURSWATER

1 COMMENT