Hal Kecil Supaya Air Bersih Tetap Ada

0
833

Bangun tidur, hal pertama yang saya lakukan adalah minum segelas besar air bening. Air tersebut berasal dari sumur di halaman belakang rumah. Bagi saya yang tinggal di bagian utara #jogjahijau hal tersebut tidak istimewa. Kawasan kami berlimpah air. Kebanyakan punya sumur sendiri dengan kondisi air baik. Sehingga sebagian besar penduduk dengan entengnya membuang berliter-liter air bersih untuk mencuci kendaraan atau menyiram tanaman.Tapi, sampai kapan hal tersebut bisa kami nikmati?

Bagaimana jika sumber air kami kelak tercemar? Apakah kami masih menggunakan air tersebut untuk mencuci atau mandi? Seperti yang dilakukan sebagian penduduk Jakarta atau di kota besar yang padat penduduk. Saya jadi ingat waktu berjalan-jalan di seputaran Kota Tua. Saya dan Fathur berencana hunting foto di kota yang dibangun Jan  Pietersz Coen pada tahun 1619. Beberapa buku sejarah yang saya baca menyebut kota ini sebagai Ratu Asia karena keindahannya.
Bayangan tentang kota cantik hilang saat kami lewat Sungai Ciliwung. Kami disambut dengan bau comberan. Air sungainya berwarna hitam kelam. Sampah-sampah mengambang di permukaannya. Jauh berbeda dengan bayangan saya pada masa VOC. Dahulu, sungai ini bersih. Penduduk biasa mandi di pinggir sungai sambil melihat kapal-kapal dagang hilir mudik. Saat ini, penduduk sekitar sungai masih menggunakan air tersebut untuk mandi dan buang air. Mereka terpaksa karena tidak ada lagi sumber air bersih gratis.

Beberapa saat kemudian saya baru tahu kalau sungai di daerah padat penduduk berwarna hitam karena kandungan bakteri anaerob di air. Bakteri tersebut tumbuh subur akibat oksigen di air habis saat terjadi proses penguraian sampah. Oksigen di air juga berkurang saat penduduk sekitar sungai membuang logam berat, minyak, dan detergen. Bisa jadi, beberapa tahun lagi jumlah sungai yang tercemar akan bertambah. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.

Jumlah manusia di muka bumi ini semakin bertambah karena angka kelahiran lebih besar daripada kematian. Saat saya megakses peta pertumbuhan penduduk yang ada di situs www.theatlantic.com, jumlah penduduk bumi mencapai 7.093.354.585. Angka tadi diperkirakan mencapai 9 milyar penduduk dalam waktu 30 tahun. Bisa jadi saat itu desa saya berubah menjadi kota. Dan sumur-sumur kami akan tercemar. Apakah kita akan diam dan menunggu hal tersebut terjadi? Seharusnya, sebagai penghuni bumi yang menggunakan air untuk minum, masak, dan mandi, kita bertanggung jawab supaya air bersih selalu tetap ada.

Tubuh kita seperti pabrik dengan berbagai zat kimia. Sel tubuh membutuhkan makanan, air, dan oksigen supaya bisa berjalan dengan baik. Air merupakan bagian penting karena mengisi 2/ 3 berat tubuh. Tanpa air, sel tubuh banyak yang tidak bisa berfungsi (Ensiklopedi Anak Disney, 2002) Air memegang fungsi vital di hampir seluruh pencernaan, pernapasan, dan sirkulasi. Kita butuh 6 hingga 8 gelas cairan tiap hari. Selain dari buah dan sayur, kita perlu minum untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Paduan Praktis Gaya Hidup Sehat Fit) Air yang bersih tentu saja.
Kita bisa menjaga supaya air bersih tetap tersedia dengan #idehijau di hidupan sehari-hari.  Ada banyak cara, tiap orang bisa melakukan hal yang cocok untuk dirinya. Kalau saya mulai dari hal kecil seperti menyiram tanaman dengan air kolam. Juga dengan air bekas mencuci sayur atau beras. Rumah kami tidak lagi menggunakan shower. Kami memilih mandi menggunakan gayung sehingga air yang terbuang lebih sedikit. Saat gosok gigi, saya memakai gelas sehingga hanya menggunakan air secukupnya. Saya juga tidak pernah membuang sampah di sungai. Saat ini saya sedang mengumpulkan info mengenai detergen yang mencemari air. Saya akan berusaha menggantinya. Kalau teman-teman, apa yang sudah kalian lakukan? Jika belum menemukan idemu, carilah. Juga tuliskan supaya orang lain tahu.

Mungkin, air yang kita irit jika melakukan hal tersebut tidak seberapa. Tapi jika kita mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama, perubahan besar akan tercipta. Pada dasarnya, manusia adalah penyampah. Kita tidak bisa menghentikan mengonsumsi barang yang menimbulkan kerusakan bumi. Tapi, dengan menjadi konsumen cerdas, kita bisa mengurangi kerusakan yang kelak timbul. Donít (just) recycle, think first

Salam dan semoga hari ini indah,

Lutfi Retno Wahyudyanti