Sungaiku, Surgaku….

0
1350

Dulu sewaktu kecil bermain bersama kawan sebaya di sungai desa adalah hal yang paling menyenangkan yang saya alami. Berenang, melompat dari tebing sungai, menyelam melihat dasar sungai, sampai mencari ikan. Kami berlari-lari riang diatas bukit kecil yang hijau disekitar kami. Aliran air yang jernih dan udara yang sejuk dihirup bisa kami rasakan setiap hari. Pemandangan bawah air dengan ikan-ikan riang bergerombol berenang membuat takjub mata yang menyelam, menjadi pelengkap masa-masa dimana kami ingin mengetahui dunia lebih luas. Ya, sungai sudah menjadi surga bermain kami disana. Bagaimana dengan masa kecilmu kawan?

Saya menyadari tidak semua orang bisa seberuntung dunia kecil saya. Tidak semua anak pada generasi sekarang ini yang bisa melihat keindahan pemandangan dibawah air yang alami dan segar. Tengok sungai di sekeliling kita, apa yang kawan temukan? Tentu mungkin hampir sependapat dengan pikiran saya. Sudah jarang kita temui pemandangan hijau dengan sungai jernih mengalir disekitar kita. Sudah akrab sekali kita dengan pemandangan sampah-sampah yang hanyut di sungai. Air berwarna keruh dengan bau yang busuk menyengat. Kuman dan bakteri makmur bersarang dan berkembang biak disana. Terbayang bukan rasanya kalau kita mandi atau hanya sekedar membasuh muka dengan air tersebut. Gatal, bau amis, atau bahkan terkena penyakit kulit.

Kenapa seperti itu?

Beberapa penyebab kenapa bisa air sungai kita jadi kotor, keruh dan berbau busuk. Yang pertama tentu akibat sampah-sampah kita di sungai. Masih banyak orang-orang kita yang enggan peduli dengan sungai-sungai di sekitarnya. Residu rumah tangga, terutama di sekitaran bantaran sungai, kerap memanfaatkan keberadaan sungai sebagai tempat pembuangan yang nyaman. Ada yang mengendap di dasar sungai, ada pula yang menghiasi permukaan aliran sungai tersebut. Sampah yang terhambat dan menumpuk inilah yang konon menimbulkan bau menyengat.

Kedua, hal yang cukup mengerikan dari wajah air sungai kita saat ini adalah pencemaran limbah industri. Sebagai contoh aliran sungai Bontang, Kalimantan timur pada februari 2014 lalu. Sungai yang mengalir di kawasan tersebut berubah menjadi merah membara seperti baru terjadi pertumpahan darah. Ternyata eh ternyata, warna merah tersebut berasal dari pembuangan cat, dari pabrik cat yang ada disana. Warna merah yang merata di sepanjang sungai Tanjung Laut, Bontang Selatan ini disebabkan oleh zat pelarut pada cat tersebut. Di Jakarta dan kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, juga terjadi warna air sungai berubah menjadi biru dan berbau. Lagi-lagi ini akibat dari residu industri yang enggan peduli dengan lingkungan kehidupan sekitar. Pencemaran akibat limpahan residu pencucian jeans penyebabnya. Mereka melakukan itu lantaran tidak memiliki unit instalasi pengolahan air limbah. Tentunya dengan sukses bahan-bahan kimia tersebut bercampur baur dengan air sungai.

Apakah kawan bisa membayangkan bagaimana kondisi kehidupan ekosistem air sungai tersebut?. Rusak pastinya. Air menjadi keruh, bercampur sampah. Air berubah warna, bercampur zat kimia. Udara berbau busuk, bercampur aroma dari limbah yang ada disungai. Lantas? Masih pantaskah? Masih layakkah anak-anak bermain dengan lingkungan demikian? Bisakah kawan membayangkan anak-anak kita bermain riang disana, berenang dan bermain diantara racun residu kimia dan tumpukan sampah?

Dan masih layakkah kita sebut sungai sebagai surge bermain?

Manfaat sungai

Saya pikir, sungai itu cuma berfungsi untuk mengaliri sawah petani, atau sebagai pembuang air hujan saja, tapi ternyata sungai juga berfungsi tuk mengangkut hasil endapan erosi dan polutan, serta berperan dalam kelangsungan siklus erosi itu sendiri.

Dengan adanya keberadaan sungai, kita juga bisa menemukan berbagai jenis ikan-ikan. Disungai, ikan akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena memang sungai adalah habitat asli ikan. Ketika ikan dapat tumbuh dengan benar, dan menjadi ikan yang besar, maka ikan dapat menghasilkan nilai ekonomis bagi warga sekitarnya. Ya, ikan-ikan tadi akan dipancing oleh warga, lantas dijual kepasar. Berkatnya, warga mendapatkan uang dari hasil penjualan tadi. Tentu ini sangat membantu mereka dalam hal ekonomi.

Selain itu, saat ini sungai juga dikembangkan menjadi wahana konservasi untuk habitat tanaman air, budidaya tambak serta beberapa jenis mamalia. Nah, dengan semua ini, tentu akan membantu masyarakat sekitar.

Eh, malah sekarang bisa dijadikan juga sebagai pembangkit tenaga listrik, lo. Itu artinya, warga dipedalaman yang tidak tersentuh listrik, bisa mencicipi terangnya sinar yang berasal dari energi terbarukan, air.  Jadi, tak perlu lagi bergantung pada bahan bakar fosil. Ramah lingkungan, bukan..?

Bahkan, jika sungainya indah dan banyak bebatuan/ karang, bisa dijadikan objek wisata, lo. Seperti saat saya bertandang ke tempat teman lama saya yang ada di Lubuk Linggau, Sumsel, objek wisata yang saya kunjungi ya sungai, yang dilintasi oleh air terjun. Begitu kerennya fungsi sungai, sayang sekali kalau tidak dipelihara.

Sungai itu adalah bahan baku air minum. Air tuk tubuh kita. Dan masyarakat yang berada dipinggiran sungai masih mengandalkan air sungai tuk dikonsumsi sebagai air minum, meski airnya mereka beri kaporit, untuk mengendapkan kotoran.

Kebayang dong, dengan manfaat besar seperti ini, tapi kebanyakan kondisi sungai di Indonesia sudah pada kotor dan tercemar. Sungainya tak lagi bersih, harusnya tak layak tuk dikonsumsi, walau sudah diberi kaporit sekalipun. Tapi, mau gak mau, warga harus memberi kaporit, agar air terlihat jernih dan seolah-olah layak tuk diminum. Padahal, penambahan kaporit ke dalam air akan menghasilkan senyawa kimia sampingan yang bernama Trihalometana (THM). Senyawa ini banyak diklaim oleh para pakar air sebagai penyebab produksi radikal bebas dalam tubuh yang mengakibatkan kerusakan sel dan bersifat karsinogenik.  Selain itu pemberian kaporit juga akan timbulkan bau dan rasa. Padahal, syarat air yang bersih dan layak tuk dikonsumsi itu, ya gak boleh bau.

Kita selamatkan air kita

Saya rindu dengan sungai saya yang dulu. Tempat saya dan kawan sebaya bermain penuh suka cita. Sungai yang membawa manfaat masyarakat di sekitarnya. Tempat anak-anak belajar secara langsung tentang alam. Yuk kita perhatikan lagi residu rumah tangga kita. Hindari membuang ke sungai, bisa dibuatkan pembuangan khusus dan kemudian dibakar. Kita dan masyarakat sekitar juga lebih jeli lagi dengan lingkungan apabila berada di dekat area industri. Sudah saatnya kita peduli, sudah saatnya kita membangun kembali sungai yang bersih, sehat dan menyenangkan. Menjaga sungai kita, untuk menjaga warisan generasi-generasi kita berikutnya. Mengukir kembali cerita sungaiku, surgaku….

#Don’t(just)recycle,thinkfirst #Jogjahijau #KonsumsiHijau