Septic Tank yang Baik Membantu Menjaga Kualitas Air Tanah

0
1756

“Aduuhhh….perutku sakit sekali…..rasanya kayak melilit….sudah lima kali bolak-balik ke toilet…… badanku lemas sekali…”

Kejadian itu pernah saya alami lima belas tahun yang lalu saat indekost di wilayah Pogung. Tubuh saya sudah lemas akibat  diare yag menyerang.  Tak hanya sekali, tercatat tiga kali saya mengalami diare akut yang membuat tubuh saya kekurangan cairan cukup banyak.  Menurut dokter, diare yang saya alami diakibatkan oleh bakteri e-coli yang masuk melalui makanan, air minum atau air di kamar mandi. Karena diare yang saya alami telah berulang tiga kali maka dokter menyarankan agar saya memeriksa sumber air di tempat tinggal saya.

Beberapa waktu usai tubuh saya membaik, disertai rasa penasaran yang cukup tinggi, saya memeriksa  letak sumur dan septic tank di kos. Ternyata jarak antara sumur dan septic tank cukup jauh, kurang lebih 12 meter. Sumur berada diujung  bagian dalam kos sedangkan septic tank berada di halaman depan bangunan kos. Hmmm……menurut saya jarak dan lokasi keduanya  cukup ideal.

Masih berbekal rasa penasaran, saya iseng ngobrol dengan pemilik kos.  Istilah kerennya saya melakukan investigasi kecil-kecilan. Dengan bangga, ibu kos saya  berkata,  “Septic tank saya itu ndak pernah bermasalah mbak…. Sudah dua puluh tahun lebih sejak dibuat… belum pernah disedot lho!”

Apaa? Dua puluh tahun lebih septic tank itu tidak pernah disedot? Waduh!! Jangan-jangan sumur di kos sudah tercemar  limbah tinja dari septic tank  dan mungkin gara-gara itu saya kena diare..….

Namun, saya masih penasaran soal penyebab sakit saya ini. Esoknya saya melanjutkan investigasi.  Saya memeriksa rumah sekitar yang berbatasan langsung dengan kos-kosan. Alhasil, saya  mendapati letak septic tank yang berada tak sampai tiga meter  lokasi sumur di kos saya.

Pengalaman saya menjadi sebuah pelajaran berharga bagaimana sebuah pengelolaan sistem pembuangaan limbah  biologis manusia harus diperhatikan secara serius. Idealnya, selain memperhatikan jarak antara sumur dengan septic tank, perlu juga dicermati lokasi septic tank milik tetangga serta pengurasan septic tank secara berkala.

Septic tank sendiri merupakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pengolah dan pengurai limbah tinja manusia. Bangunan septic tank ini harus kedap air sehingga air yang berada di dalam   septic tank tidak akan meresap ke dalam tanah tetapi akan mengalir keluar melalui sebuah saluran tersendiri.   Sebenarnya air yang telah keluar  melalui pipa saluran tersebut masih tidak aman bagi lingkungan sekitar sehingga masih di perlukan  unit pengolahan lain  berupa sebuah bidang resapan, sumur resapan dan  filter aliran ke atas yang menggunakan pasir dan kerikil.
Don’t just built  a septic tank, think first!   

Jangan  membuat septic tank sembarangan, kita harus mempertimbangan banyak hal mlai dari jarak sumur dengan septic tank jumah penghuni rumah, pengurasan hingga tidak membuang benda lain ke lubang toilet.

Selain septic tank konvensional yang dibuat dari bahan batu bata dan semen, kini telah muncul berbagai jenis septic tank  dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Septic tanc jenis ini umumnya terbuat dari fiber glass dan memiliki bentuk bermacam-macam.  Septic tank ramah lingkungan ini terdiri dari  3 kompartemen dan 1 talang air.

  • Kompartemen 1 merupakan saringan awal (bar screen) tempat dimana tinja dan urine masuk pertama kalinya. Kompartemen ini berfungsi untuk memisahkan limah organic dan anorganik. Selanjutnya limbah tinja dan urine masuk ke Kompartemen 2 secara over flow.
  • Kompartemen 2 memiliki media filter mega cell yang berfungsi sebagai tembah tumbuh kembang bakteri pengurai limbah tinja.  Media filter ini dibuat secara dinamis dan akan berputar-putar apabila ada arus air dari  Perputaran  pada kompartemen ini membuat sebuah rotasi peguraian  limbah tinja,  tinja yang berada di bawah akan terangkat ke atas  sehingga tidak terjadi pengendapan. Penguraian akan berlangsung secara merata dan menghasilkan air yang mulai baik untuk elanjutkan masuk ke kompartemen ketiga.
  • Pada Kompatemen 3 terdapat media filter sedimentasi yang juga berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya bakteri pengurai sebagaimana pada kompartemen    Fungsi bakteri pengurai  pada kedua kompartemen masih sama hanya saja pada kompartemen 3 lebih pada penyaring apabila masih ada bakteri yang lolos dari kompartemen 2. Selanjutnya air akan naik menuju Talang Air.
  • Talang Air berfungsi sebagai filter terakhir apabila dalam aliran air masih terdapat bakteri pathogen yag lolos. Kandungan desinfectan chlorine pada Talang Air akan membunuh bakteri patogen yang lolos dari ketiga kompartemen sebelumnya. Air yang keluar dari Talang Air ini terhitung sudah ramah lingkungan dan tidak mencemari air tanah di lingkungan sekitar.

 

Septic tank ramah lingkungan ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki septic tank konvensional  karena tidak memerlukan lahan luas sehingga bisa digunakan pada pemukinan padat penduduk. Selain itu pemasangannya lebih mudah dan cepat. Bahkan septic tank ini juga bisa dimanfaatkan pada unit toilet berjalan. Karena memiliki system rotasi maka tidak terjadi endapan lumpur tinja maka tidak diperlukan pengurasan/penyedotan, cukup memasukkan bubuk bakteri pada lubang toilet.

Nah….pemilihan jenis septic tank yang tepat  dan disertai perawatan yang baik akan membantu mengurangi pencemaran air tanah di lingkungan sekitar kita dan secara tidak lagsung kita telah   melakukan  aktivitas #KonsumsiHijau.

Air tanah yang tidak tercemar akan membantu menjaga kesehatan tubuh kita agar bisa beraktivitas dengan baik sehingga harapan menuju  #JogjaHijau  bukanlah sebuah impian belaka. Dengan demikian kita  bisa memiliki kualitas hidup lebih baik.