Lindungi Air Untuk Generasi Mendatang

0
452

Akhir November 2014 ini Jogja dan sekitarnya belum hujan, padahal di beberapa tempat Pantai Utara Jawa hujan sudah mulai turun. Hal ini menjadikan musim kemarau di Jogja lebih panjang dan berdampak meluasnya kekeringan. Sumber-sumber air mulai mengering, warga pun mulai kekurangan air.

Air, khususnya air tawar (tanah) adalah salah satu sumber kehidupan. Hampir semua makhluk hidup yang hidup di daratan tergantung pada air, terutama untuk minum. Manusia sendiri membutuhkan kurang lebih seliter air tiap hari untuk bertahan hidup; tergantung aktivitas dan tempat tinggalnya.

Ada beberapa aspek yang membuat kekeringan lebih cepat menghampiri bumi. Antara lain karena hilangnya pohon-pohon penyimpan air, eksploitasi air tanah yang berlebihan, dan rendahnya resapan air ke tanah saat hujan.

Kita harusnya miris melihat fenomena ketika air tanah mulai sulit didapatkan di musim kemarau. Sebenarnya manusia ikut andil besar menyebabkan kekeringan. Pohon-pohon ditebang untuk dijadikan kayu, atau tanahnya alih fungsi untuk didirikan bangunan. Eksploitasi air tanah berlebihan, terutama oleh gedung-gedung tinggi. Kasus di beberapa wilayah Jogja, sumur warga mengering setelah di wilayahnya didirikan hotel. Demikian juga saat musim hujan, air hujan langsung masuk ke saluran pembuangan dan tidak meresap ke tanah. Hal ini karena banyak tanah yang sudah tertutup bangunan atau jalan, sehingga tidak bisa menyerap air.

Jika beberapa aspek tersebut tidak segera ditanggulangi, kekeringan akan semakin parah. Bahkan ada kecenderungan makin lama makin bertambah parah. Sadarlah dengan nasib kita dan anak keturunan kita, saat ini kita masih bisa numpang fasilitas umum saat tidak ada air. Tapi generasi mendatang akan mengalami kekeringan lebih parah dari sekarang. Dan itu akibat kesalahan generasi sebelumnya.

Bayangkan betapa susahnya hidup seperti dalam film Waterworld Kevin Costner. Harga air tanah lebih mahal dari minyak. Dunia dikelilingi air laut, daratan hanya impian karena tenggelam akibat mencairnya es di kutub dan eksploitasi air tanah berlebihan. Kehidupan di film tersebut bisa terjadi pada generasi mendatang, jika kita tidak melindungi ketersediaan air tanah dari sekarang.

Mulailah melindungi ketersediaan air dari diri kita dan keluarga. Jika sudah konsisten, ajaklah kerabat, dan tetangga. Hal yang bisa dilakukan adalah:

  • Menanam pohon penyerap air jika memungkinkan.
  • Tidak menutup semua permukaan tanah agar air bisa menyerap ke dalam tanah.
  • Berlangganan air jika kawasan dilintasi pipa PDAM.
  • Beli air minum air galon. Meskipun air tersebut air isi ulang tapi biasanya berasal dari mata air. Pengambilan air dari mata air bukan dengan pengeboran, tapi mengambil dari air yang terpancar dari tanah sehingga tidak merusak lingkungan.
  • Cukup sekali bilas saat mencuci pakaian, gunakan cairan pelembut sekali bilas. Langkah ini untuk penghematan air.
  • Cuci kendaraan sendiri dengan air dalam ember, atau kunjungi jasa cuci kendaraan yang airnya diambil dari air sungai yang mengalir dengan kompresor. Di jogja, beberapa tempat cuci kendaraan menggunakan cara ini.

Melindungi ketersediaan air bukan hanya cara penggunaannya, tapi juga mempertahankan agar air dapat tersimpan di dalam dalam waktu lama. Sehingga kita dan generasi mendatang dapat terus menikmatinya.