Hemat Air Yuk!

0
601

Membahas tentang air, saya teringat dengan pernyataan bahwa air adalah tanda kehidupan. Dengan pemahaman lain: selama masih ada aliran air, maka di situlah masih ada kehidupan. Dari pernyataan tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa air sangat penting bagi keberlangsungan hidup semua makhluk hidup: manusia, hewan dan tetumbuhan. Tanpa air, ketiga-tiganya bisa mengalami kekeringan dan mati. Oleh karena itu lah air selalu dinanti dan dicari untuk memenuhi kebutuhan utama mereka.
Selain menjadi kebutuhan utama, air juga bisa menumbuhkan kebersamaan. Tahun 2012, di sebuah pulau bernama Pulau Maringkik, di Kecamatan Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, saya membuktikannya. Pulau Maringkik merupakan sebuah pulau yang bisa dikatakan kecil yang berada di tengah-tengah laut. Namanya juga di tengah laut, pastinya di sana lebih banyak air asin dibandingkan dengan air tawar. Di sana air tawar susah untuk didapatkan. Meskipun sudah dibuat sumur di rumah penduduk atau di beberapa tempat yang dianggap memiliki sumber air tawar, tetapi nyatanya sangat sedikit air tawar yang dihasilkannnya.
Untuk memenuhi kebutuhan air tawar, setiap pagi para penduduk Pulau Maringkik melakukan antri untuk mendapatkan air tawar. Setiap pagi mereka dijatah air tawar dengan terbatas yang mereka tampung di dalam juriger. Maka tak heranlah ketika kamu (suatu saat) berkunjung ke Pulau Maringkik akan menjumpai jurigen di setiap rumah penduduk. Saya yang saat itu sedang melakukan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama teman-teman kampus saya, pun turut antri untuk mendapatkan air tawar. Saat itu jatah air tawar yang kami dapatkan hanya dua tong untuk kebutuhan memasak, mencuci peralatan dapur, dan wudhu. Jatah tersebut pun hanya bisa bertahan dua hingga tiga hari. Air tersebut kami gunakan untuk mencuci peralatan dapur, memasak dan cuci muka.
Hidup 10 hari di Pulau Maringkik membuat saya merasakan betapa penting dan mahalnya air tawar. Saking mahalnya, saya yang saat itu melakukan mandi pun bisa dihitung. Namun, dengan mahalnya air tawar di sana, saya dapat melihat betapa rukunnya penduduk di Pulau Maringkik. Meskipun air tawar yang mereka miliki sangat terbatas, tetapi justru karena itu lah kebersamaan penduduk di Pulau Maringkik lebih erat dan dekat.
Pengalaman atas keterbasan air tawar di Pulau Maringkik juga menyadarkan saya untuk terus belajar mensyukuri setiap tetes air tawar. Jika di tempat tinggal saya, Jogja, air sangat melimpah dan bisa digunakan untuk apapun dan kapanpun, tetapi tidak demikian dengan tempat KKN saya di Pulau Maringkik. Di Pulau Maringkik, satu gayung air tawar sudah bisa saya gunakan untuk menggosok gigi dan cuci muka. Bagi saya, ini bukan tentang jorok atau tidak jorok, melainkan tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Bahkan di Pulau Maringkik saya bisa mandi dengan air tawar hanya satu ember, sedangkan di Jogja saya bisa menghabiskan beberapa ember untuk mandi. Dua kondisi yang bagi saya bertolakbelakang.
Pengalaman lainnya yang muncul saat saya kekurangan air tawar di Pulau Maringkik adalah rasa peduli dari penduduk sana kepada saya dan teman-teman saya. Sebagai tamu yang menumpang hidup di sana, kepedulian itu menjadi penguat kebersamaan kami bersama penduduk Pulau Maringkik. Bahkan tak jarang penduduk yang menawarkan kepada kami untuk turut mandi di rumahnya. Dari situlah saya juga sadar bahwa air telah mendekatkan hubungan kekeluargaan kami dan mereka. Oleh karena itulah saya mengajak kamu untuk terus bersyukur dalam menggunakan air di tempat tinggalmu. Tak perlu lah menggunakan 10 gayung jika 5 ember sudah cukup. Sebab, di daerah lain masih banyak orang yang membutuhkan dan kekurangan air. Well, hemat air yuk!