“Cocopot” Pot ecofriendly Hemat Air

0
1908

Istilah cocopot mungkin masih asing bagi sebagian orang. Cocopot berasal dari kata coco- coconut-kelapa dan pot atau bisa disebut sebagai pot dari sabut kelapa. Cocopot dibuat dengan menggabungkan helaian sabut kelapa (tanpa batok) menjadi utuh kembali dan dibentuk menyerupai pot untuk menanam aneka jenis tanaman.

cocopot, tampil manis di homegarden
cocopot, tampil manis di homegarden

Untuk wilayah Jogja, cocopot dikembangkan di Rejeki Tani, yang terletak di Jalan Kaliurang KM 12,5 Sleman. Rejeki tani sendiri merupakan sebuah tempat dengan konsep homefarming / budidaya aneka jenis tanaman sayuran disekitar rumah dimana orang dapat melihat praktek budidaya tanaman di lahan terbatas, memanfaatkan aneka barang bekas termasuk diantaranya adalah sabut kelapa yang diubah menjadi cocopot.

Ide awal pembuatan cocopot ini adalah mengingat pada masa sekarang sabut kelapa yang melimpah belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, bahkan tidak ada harganya sama sekali dan di perdesaan paling banter dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Akan tetapi ketika dibuat menjadi sebuah pot, dengan dudukan atau digantung, sabut kelapa dari satu butir kelapa yang sudah dibentuk menjadi pot dibanderol dengan harga Rp 10.000,-/buah. bahkan di beberapa toko online di luar negeri, seperti Swedia, harga cocopot sebesar 75 Kr atau hampir setara dengan 150 ribu rupiah.
Sabut kelapa mengandung serbuk/cocopeat yang dapat menyerap air seperti spons. Selain itu kandungan Kalium dalam sabut kelapa merupakan nutrisi makro yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh kuat. Selain itu dalam serat kasar sabut kelapa mengandung silica yang menghindarkan jamur.
Untuk menggunakan cocopot, cukup dengan mengisinya dengan media tanam berupa tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 1:1 dan siap ditanami. Sebelum digunakan, cocopot dicelupkan ke air sampai gelembung-gelembung yang keluar hilang, ini berarti seluruh ruang pori dalam sabut kelapa telah terisi air.

Penggunaan cocopot untuk bertanam aneka tanaman dikatakan menghemat air karena ketika sabut kelapa lembab/basah, tanah sebagai media tanam akan tetap lembab dalam waktu paling tidak 3 hari sehingga frekwensi penyiraman tanaman berkurang dan tentu saja menghemat air.
Keberadaan air pada sabut kelapa akan diserap tanaman secara perlahan sesuai kebutuhan tanaman. Agar lebih menghemat lagi, penyiraman yang dilakukan secara periodik tidak dilakukan dengan menyiram pot dari atas, melainkan mencelupkan pot dan tanamannya kedalam baik berisi air sampai gelembung hilang kemudian ditiriskan sampai air yang ada didalam pot tidak lagi menetes baru diletakkan ditempatnya.

Sabut kelapa yang dibuat menjadi cocopot, selain mampu mengikat air di ruang porinya dan digunakan secara perlahan oleh tanaman, juga mampu menstabilkan suhu media tanam. Apabila kita bandingkan suhu media tanam dalam pot plastic dengan suhu media tanam dalam cocopot pada siang hari, akan menunjukkan perbedaan yang signifikan. Suhu media tanam yang terlalu tinggi pada pot yang berbahan plastic menyebabkan tanaman menjadi stress dan penyerapan nutrisi tanaman menjadi tidak optimal, akibatnya pertumbuhan tanaman juga tidak akan bagus.

tampilan prima tanaman yang dibudidayakan dalam cocopot
tampilan prima tanaman yang dibudidayakan dalam cocopot

Pada penggunaan normal, untuk budidaya tanaman sayuran berumur pendek(kurang lebih 1 bulan) cocopot mampu bertahan hingga satu tahun dengan catatan disekitar pot tidak ada rayap. Setelah tidak digunakan lagim, cukup membongkar cocopot, mengambil kawatnya untuk dipergunakan kembali dan menimbun sisa-sisa sabut kelapa bersamaan dengan bahan organik lain untuk diubah menjadi pupuk organik. Dengan demikian penggunaan cocopot tidak menyisakan masalah sampah yang tidak terurai.

Dengan menggunakan cocopot, penggunaan air untuk budidaya tanaman dapat ditekan hingga 50 % dibanding dengan penggunaan pot dari plastik seperti yang dijual di pasaran. Frekwensi penyiraman juga dapat ditekan 25-50% . Menghemat air tidak harus menggunakan benda-benda berteknologi tinggi dan mahal bukan??[SBA]

 

#Don’t(just)recycle,thinkfirst , #Jogjahijau, #KonsumsiHijau