Belajar Menghargai Air, Belajar Menghargai Diri Sendiri

0
635

Bicara tentang air, maka seperti membicarakan diri kita sendiri. Sebagaimana rancang bangun tubuh kita, 75%-nya adalah air. 74,5% otak kita adalah air. Demikian juga dengan darah, dimana 82%-nya adalah air. Bahkan tulang yang terlihat keras itupun, 22%-nya adalah air.

Bicara tentang air yang menurut Dr. Masaru Emoto dari Yokohama University bahwa air bisa ‘bicara’. Sebenarnya bukan merupakan faktor kebetulan. Sebab Allah menciptakan air juga sebagai mahluk. Penelitian yang akhirnya membawa beliau untuk mempresentasikan penemuannya di Markas Besar PBB, Maret 2005 yang lalu.

Indahnya bercermin dengan air.
Indahnya bercermin dengan air di musim penghujan. (Dok. pribadi)

Sekali lagi, bukan kebetulan jika air dikatakan bisa ‘bicara’. Penelitian ilmiah Dr. Masaru Emoto tersebut menunjukkan, ketika pesan positif diucapkan berulang kali, molekul air akan membentuk formasi yang indah. Sebaliknya, jika sugesti negatif diucapkan berulang, molekul air berupa kristal membentuk formasi yang buruk. Maha Besar Allah dengan segala ciptaannya. Begitu juga saat kita menyadari bahwa air mengajak kita untuk ‘bicara’. Nampak keindahan luar biasa yang berhasil kita tangkap dengan mata kita. Sebagaimana gambar di atas, begitu tedu dan syahdunya nuansa alam tercipta, saat matahari bercermin pada hamparan air bak kaca bening.

Belajar tentang Air kepada Musim

Petani riang gembira menyambut air di sawah. (Dok. pribadi)
Petani riang gembira menyambut air di sawah. (Dok. pribadi)

Indonesia, adalah sebuah negeri dengan siklus dua musim, musim hujan dan musim kemarau. Enam bulan musim hujan dan enam bulan musim kemarau. Demikian seharusnya siklus alam yang seharusnya terjadi. Ketika sikulus itu berlangsung indah, tak pelak alam pun merona. Demikian juga dengan para nelayan, petani maupun penggarap lahan produktif lainnya. Senyum mereka akan terhias di bibir mereka. Terbayang tanaman yang akan hidup subur. Sehingga berharap panen melimpah.

Namun, karena berbagai faktor kerusakan lingkungan yang terjadi, siklus itu pun menjadi tak wajar. Ada kalanya musim penghujan hanya lima bulan. Sehingga musim kemarau (mungkin) menjadi tujuh bulan. Seperti siklus musim yang terjadi pada tahun ini. Inilah jawaban alam atas kepongahan kita. Saat mengeksplotasi alam tanpa melihat dampak yang ditimbulkannya. Semua merasakan, semua menuai ‘kemarahan’ alam atas ketamakan perilaku kita.

Anak sungai Blawi yang kerontang. (Dok. pribadi)
Anak sungai Blawi yang kerontang. (Dok. pribadi)
Prahu pun hanya tersandar, beku. (Dok. pribadi)
Prahu pun hanya tersandar, beku. (Dok. pribadi)

Dampak langsung siklus musim tak normal itu juga dirasakan menjadi luar biasa. Air sebagai sendi kehidupan, seolah begitu teramat mahal. Kekeringan pun melanda. Sungai yang biasanya penuh di musim hujan. Bahkan terkadang menjadi penyebab banjir. Kali ini menjadi kering kerontang. Sehingga perahu pun tinggal bersandar. Sawah yang biasanya begitu ramah di musim hujan. Tambak dengan air melimpah dan jutaan ikan bandengnya pun menjadi jalang dan tanahnya pun terbelah. Lalu adakah harapan hidup merekah di saat air menjadi langka?

Lalu setelah terjadi seperti ini, akankah kita tetap berdiam diri. Menjadi objek penderita dari tingkah polah segelintir manusia yang memanfaatkan air tanpa kendali. Tidakkah musim telah memberi bukti pada kita. Ternyata banyak yang salah dengan perilaku hidup kita. Air seolah menjadi monopoli kita. Yang bebas kita eksplotasi untuk kepentingan apa saja. Padahal sebenarnya air itu sendiri akan bersikap ‘baik’, jika kita bisa pula bersikap ‘baik’ kepadanya.

Belajar Bijak Mengelola Air dari Warga Blawi

Sebagai sebuah desa kecil di  Kabupaten Lamongan, Blawi bukanlah desa yang tanahnya subur. 75% dari 377 ha. total luas tanah desa adalah berupa tambak. Namun akan berubah fungsi saat memasuki musim pancaroba, dari musim hujan ke musim kemarau. Sungai Blawi dan anak sungainya cukup menjadi vital saat musim penghujan. Sebab sungai tersebut dimanfaatkan sebagai jalur transportasi antar dusun/desa. Sekaligus untuk masuk ke tambak-tambak yang rata-rata ditanami benih ikan bandeng.

Air menjadi sesuatu yang sangat berharga di desa ini. Sehingga berbagai upaya pengelolaan dan pemanfaat air dilakukan dengan optimal. Jika di kota-kota besar kampanye hemat air digaungkan di mana-mana, desa ini mulai berhemat air sejak dahulu kala. Hal ini dapat dimaklumi. Sebagian besar tanahnya adalah ‘bonorowo’, hanya ada air saat musim hujan. Maka kepandaian untuk mengelola air sangatlah diperlukan.

Embung/sumber air penolong di musim kemarau. (Dok. pribadi)
Embung/sumber air penolong di musim kemarau. (Dok. pribadi)

Meskipun telah tersedia air yang dikelola oleh perusahaan air desa, inisiatif pengelolaan air warga cukup patut ditiru. Diantara perilaku hidup ‘sadar air‘ itu adalah:

  1. Menggunakan ‘kolah’ / bak air dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Menggunakan gayung untuk mandi, sehingga tidak terlalu banyak menghamburkan air.
  2. Tidak sembarangan menyiram tanaman/bunga di pekarangan, apalagi di saat musim kemarau. Sehingga tak banyak dijumpai warga yang memiliki taman bunga.
  3. Menggunakan wadah penampungan / tangki air untuk menampung air hujan. Dimana air ini akan digunakan saat musim kemarau / kekeringan.
  4. Menjaga lingkungan embung (sumber mata air) dengan menanami pohon-pohon besar di sekitar embung tersebut.
  5. Memanfaatkan air embung dengan sehemat mungkin saat musim kemarau.
  6. Membuang air limbah masjid/mushola ke bak penampungan untuk diolah kembali menjadi air bersih. Menggunakan water treatment sederhana yang dibuat oleh mahasiswa KKN.
  7. Membuang air limbah rumah tangga (mencuci baju, mencuci alat rumah tangga dan mandi) ke penampungan yang sebagian telah dilengkapi water treatment sederhana. Sehingga airnya bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.

Berhemat Air, Berhemat untuk Masa Depan

Dari dua fenomena yang terjadi di atas, ada beberapa nilai kehidupan yang bisa kita simpulkan, diantaranya:

  1. Kampanye revolusi hijau tak akan berarti jika tak ada gerakan untuk ‘sadar air’. Sebab berangkat dari kampanye ‘sadar air’ (baca: hemat air) inilah paling tidak menjadi langkah awal untuk menuju revolusi hijau.
  2. Kebijakan pemerintah dalam skala besar atau kecil hendaklah melihat proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dengan jujur dan bertanggungjawab. Sehingga tidak akan ada industri jenis apapun yang bisa bebas menggunakan air, termasuk air tanah di dalamnya. Di situ juga harus ada keberanian aparatur terkait untuk menegakkan aturan untuk membatasi pembukaan lahan industri baru. Terutama untuk lahan hutan yang dibuka untuk kegiatan industri atau perkebunan rakyat.
  3. Masyarakat dapat berperan aktif dalam hal kegiatan ‘sadar air’ baik secara pribadi maupun kelompok. Secara pribadi adalah dengan seoptimal mungkin memanfaatkan air dengan bijak baik di musim banyak air (musim hujan) maupun musim kurang air (musim kemarau). Secara kelompok dengan keberanian untuk memantau kegiatan apapun yang memiliki potensi untuk mengeksplotasi air secara berlebihan.
Matahari tak lagi mampu bercermin. (Dok. pribadi)
Matahari tak lagi mampu bercermin. (Dok. pribadi)

Jika tiga hal tersebut di atas mampu dilakukan meski dalam skala kecil, paling tidak ada usaha untuk ‘menahan laju’ kerusakan lingkungan. Gerakan untuk menghemat air (sadar air) tak akan berhasil jika ketiga nilai kehidupan itu tak mampu berjalan beriringan. Maka jangan salahkan alam, jika tak lagi mampu  sediakan air untuk ‘bercermin’ saat musim kemarau.