Bijak Menata Rumah, Bijak Berhemat Air

2
905

Manusia membutuhkan air. Itu kenyataan yang tak terbantahkan oleh siapa pun. Selain keperluan di luar tubuh, fakta tentang kandungan air dalam tubuh manusia sungguh menakjubkan. Sekitar 60-70% atau 2/3 dari berat badan kita terdiri dari air.

Kurangnya asupan air putih bagi tubuh, dapat berdampak bagi kesehatan. Antara lain:

  1. Membuat sel-sel otak menjadi tidak aktif
  2. Menurunkan konsentrasi
  3. Menyebabkan halusinasi bahkan kematian
  4. Menyebabkan infeksi kandung kemih
  5. Membuat kulit menjadi kusam
  6. Mengganggu fungsi ginjal

Krisis Air: Fakta Atau Isapan Jempol?

Banyak orang menyangka bahwa bumi dan sekitarnya melimpah dengan air, sehingga mustahil kita akan menghadapi isu krisis air. Ini adalah fakta yang separuh benar. Kebenaran yang sepenuhnya adalah isu krisis air merujuk pada status sumber air bersih yang bisa dikonsumsi. Kita harus menerima fakta bahwa sumber air bersih hanya tersimpan di dalam tanah, permukaan bumi, dan atmosfer. Lautan bukanlah sumber air, karena dibutuhkan upaya yang sangat mahal dan tidak ekonomis untuk mengubah air asin menjadi air tawar.

Meningkatnya populasi manusia, memicu kebutuhan air tanah yang selaras meningkat, baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian, dan industri. Bencana alam dan pencemaran turut memperburuk situasi. Menurut Bank Dunia, 88% dari penyakit disebabkan oleh meminum air yang tidak bersih, sanitasi buruk, dan kurang menjaga kebersihan. Kondisi ini tentu akan semakin tidak kondusif dengan terjadinya perubahan iklim.

Memang langkah antisipatif bisa dilakukan dengan memelihara hutan sebaik mungkin. Namun sayangnya luas hutan semakin berkurang, dan akan terus berkurang. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah preventif berwujud tindakan nyata untuk berhemat air bersih. Tapi bagaimana memulainya? Apa yang harus dilakukan? Bagaimana gerakan ini bisa menjadi aksi jangka panjang yang tak berkesudahan?

Premisnya sederhana: Mulai dari diri sendiri, wujudkan dalam menata rumah, dan pada akhirnya rumah akan menata diri Anda. Mari kita memulai “perjalanan memahami” ini.

1. Mulai dari Diri Sendiri

If a country is to be corruption free and become a nation of beautiful minds, I strongly feel there are three key societal members who can make a difference. They are the father, the mother and the teacher,” ujar A. P. J. Abdul Kalam. Dalam terjemahan bebas, mantan presiden serta ilmuwan dan insinyur terkemuka India ini hendak menyampaikan, “Jika sebuah negara ingin bebas dari korupsi dan menjadi negeri yang berpikiran sehat, kuat dugaan saya kunci untuk membuat perbedaan ini terletak di tangan tiga golongan masyarakat ini. Mereka adalah kaum ayah, kaum ibu, dan para guru.”

Dua dari tiga kelompok orang yang disebutnya itu, berbasis pada keluarga. Segera saja, saya teringat pada sebuah cerita yang entah pernah saya baca di mana. Cerita ini akan saya kisah ulang sesuai konteksnya di sini:

Seorang lelaki tua bercerita, saat masih muda dengan semangat membara ia hendak mengubah negaranya, tapi gagal. Di usia matang, ia bertekad mengubah keluarganya. Namun ternyata tidak semudah itu, dan ia harus menerima realita pahit. Ketika usianya sudah tinggi ia kian bijak dan berkata, “Andai semasa muda saya memulai tekad untuk mengubah diri saya terlebih dahulu, saya optimis bisa mengubah keluarga saya. Dan, bila itu saya lakukan, mungkin saja saya bisa mengubah negeri ini.”

Dari inspirasi ini kita belajar untuk memulai sesuatu dari diri sendiri, lalu lingkup keluarga, maka setelahnya kontribusi kita akan dirasakan secara lebih luas. Ini adalah “magic step”, rahasia kecil yang lebih dari sekadar layak untuk dijadikan panduan dalam menjalani kehidupan. Termasuk membangun kesadaran dan mengambil aksi nyata untuk melakukan “gerakan hijau” dalam isu berhemat air.

2. Wujudkan Dalam Menata Rumah

Jika kita menyadari betapa penting berhemat air dalam situasi penurunan air tanah yang terjadi di berbagai kota dan daerah di Indonesia, jika kita menyadari bahwa bumi titipan Allah dan semua isinya yang pengelolaannya diserahkan kepada manusia dan Ia menuntut tanggung jawab dari kita, maka untuk melakukan aksi nyata #hematair tidaklah sulit.

Kita tidak harus tercatat resmi dan memiliki Kartu Anggota sebuah organisasi nirlaba untuk beraksi. Kita juga tidak harus mengadakan atau terlibat dalam aktivitas sosial berskala nasional untuk berbuat sesuatu. Langkah kecil, langkah sederhana dapat dilakukan siapa saja dengan mengerjakan bagian yang dapat ia lakukan.

Kita bisa memulainya dari lingkup fisik di lingkungan rumah kita sendiri. Pertama-tama, mulailah dari halaman depan. Jangan menyemen habis pelataran depan rumah kita. Gunakan paving blok seluas bisa dijangkau, dan sisakan tanah terbuka untuk taman. Area terbuka seperti ini sangat berperan untuk penyerapan air terutama di musim penghujan.

Kedua, upayakan agar air PDAM memperoleh jalan untuk masuk ke dalam rumah kita. Mungkin agak berat di biaya berlangganannya, tapi ini pilihan bijak daripada kita terus-menerus menyedot air tanah tanpa kontrol.

Ketiga, jadikan kamar mandi kita sebagai sang “superhero” karena di sinilah pusat penggunaan air dari seantero rumah. Ada dua hal yang bisa kita lakukan. Selain mengubah cara mandi menggunakan shower, kita perlu cerdas dalam memilih toilet yang menyediakan dua sistem penyiraman, yaitu air kecil dan air besar. Dengan demikian kita memiliki dua pilihan sesuai kebutuhan.

Keempat, seperti halaman depan, jangan habiskan bagian belakang rumah kita dengan bangunan. Bagian yang terbuka selain bermanfaat untuk sirkulasi udara, juga memberi kesempatan bagi kita untuk membuka akses air ke tanah. Ini juga terkait dengan kebutuhan pada butir berikut ini.

Kelima, bangun tempat cuci piring sedekat mungkin dengan ruang terbuka di belakang rumah. Semakin dekat, semakin memudahkan dan mengikis keengganan kita untuk membuang air bebas cucian menjadi air penyiram tanaman/taman.

Keenam, meski mungkin sudah tidak tren atau dianggap kuno, usahakan membuat talang untuk menampung aliran air hujan, yang kemudian bisa dialirkan menjadi jumlah yang memadai untuk didistribusikan ke bagian lain yang membutuhkan serapan air.

3. Rumah Menata Diri Kita

Jika kita mampu menaklukkan rumah kita dan mengubahnya menjadi rumah hijau hemat air, tanpa kita sadari sesuatu yang berharga dan bernilai akan terjadi.

Pertama, bangunan yang “sekadar” fisik itu pada akhirnya akan berjasa membentuk perilaku kita. Dari waktu ke waktu, bila sesuatu dilakukan terus-menerus secara konsisten, akan membentuk habit, sebuah kebiasaan. Dalam hal praktis, akan membentuk takaran penggunaan air kita. Kita akan tahu makna cukup dan peka pada yang berlebihan. Dampaknya, sikap mental #hematair ini akan kita bawa ke mana saja: kantor, hotel, rumah orang lain, atau sarana publik.

Kedua, menjadi sarana untuk menularkan sikap #hematair kepada anggota keluarga lain, baik suami atau istri, dan terutama kepada anak-anak kita. Di sini letak kesempatan kita mewariskan nilai-nilai luhur dan mulia kepada generasi mendatang. Bukankah keteladan berbunyi lebih nyaring dari khotbah atau kuliah panjang ke mana-mana?

Ketiga, menjadi “alat” testimonial kepada siapa pun yang sempat bertamu atau menginap di rumah kita. Dengan tindakan yang tampak “pasif” ini, kita sebenarnya akan “aktif” menularkan hal positif ke orang lain–berkampanye tanpa perlu berteriak di ruang seminar atau stadion sepakbola.

* * *

Ini premis yang sangat masuk akal dan sederhana. “Magic Step” yang universal dan bisa ditiru oleh siapa pun. Syaratnya sangat sederhana: Mulai dari diri sendiri, mulai dari lingkup terdekat, hingga terbentuk habit baru yang patut diteladani.

@angtekkhun

#Don’t(just)recycle,thinkfirst #Jogjahijau #KonsumsiHijau

Rujukan:
Kebutuhan Air Dalam Tubuh – https://id-id.facebook.com/klinikdokterkita/posts/550454998371706
Krisis air – http://ms.wikipedia.org/wiki/Krisis_air
Kelangkaan air – http://id.wikipedia.org/wiki/Kelangkaan_air

2 COMMENTS