Tidak Ada Jaminan “Hijau” pada Wood Plastic Composite

0
1959
Potongan produk WPC yang digunakan sebagai alternatif pengganti lantai kayu alami.

Siang itu raut wajah rekan kerja saya nampak sangat serius membaca kalimat demi kalimat di salah satu forum. Terlihat ada sedikit kerutan kegelisahan. Entah apa yang dia temukan, yang jelas bukan kabar buruk tentang kelangkaan bbm subsidi atau hiruk pikuk politik dalam negeri.

Lantas mengapa?

***

Dulunya kami bekerja di salah satu perusahaan ekspor yang berkantor dan memiliki pabrik di Yogyakarta. Kami diterima bekerja di perusahaan tersebut sebagai internet marketer dalam waktu bersamaan. Selain sebagai internet marketer, saya juga merangkap kerjaan lain sebagai web developer dengan bermacam kerjaan “OOT” lainnya. Tidak sampai setahun kami memutuskan untuk resign. Dapat dikatakan kerjaan kami sudah berhasil dan kami memutuskan untuk memulai usaha masing-masing di bidang digital marketing.

Di awal masa kerja, kami langsung ditugaskan untuk melakukan branding pada salah satu produk pabrik berupa kayu komposit. Di Eropa dan Amerika, produk kayu komposit atau wood plastic composite (WPC) sudah cukup terkenal sebagai bahan alternatif material bangunan pengganti kayu alami. Penggunaan WPC antara lain :

  1. Pagar
  2. Lantai
  3. Kusen
  4. Dinding
  5. Plafon
  6. Furniture
  7. dll

 

Potongan produk WPC yang digunakan sebagai alternatif pengganti lantai kayu alami.
Potongan produk WPC yang digunakan sebagai alternatif pengganti lantai kayu alami.

Dengan skill masing-masing, secara kompak kami segera bergerak cepat membuktikan bahwa owner perusahaan tidak salah memilih kami sebagai ujung tombak untuk memenangkan pertarungan branding di dunia maya. Dimulai dengan berbagi tugas, saya mendesain ulang website dan teman saya dengan kemampuan copywriting nya memulai dengan menulis beberapa artikel yang akan dipublikasikan di blog dan forum diskusi online, salah satunya di Kompasiana.

Tiba saat dimana saya melihat rekan saya sedikit berbeda. Saya tidak pernah menanyakan secara langsung apa yang sedang dia pikirkan sampai suatu saat di jam istirahat makan siang dia bercerita tentang produk WPC yang selama ini tidak terjangkau pandangan saya.

Kami bekerja melakukan branding produk WPC dengan label produk ramah lingkungan dan tambahan beberapa kelebihan lainnya. Dari hal inilah terjadi gejolak di jiwa rekan kerja saya ketika menemukan beberapa forum diskusi yang membahas produk WPC. Sehingga menjadi pertanyaan juga bagi saya,

“sebenarnya produk WPC itu baik atau buruk?” 
“Benarkah WPC ramah lingkungan?”

Rasa penasaran kini datang menghantui, membuat saya berusaha mencari tahu jawaban dari pertanyaan dengan cara memperkaya pengetahuan tentang WPC dari media online dan bertanya langsung pada orang kantor yang lebih paham.

 

WPC Ramah Lingkungan?

WPC memang dapat diklaim sebagai produk ramah lingkungan. Di perusahaan tempat dulu saya bekerja, 90% bahan WPC adalah hasil dari limbah daur ulang yang terdiri dari 60% daur ulang serbuk kayu jati dan 30% daur ulang plastik HDPE (High Density Polyethylene ) grade A. Sementara 10% komposisi sisanya terdiri dari UV dan pigmen pewarna berbentuk butiran.

Pigmen pewarna yang berbentuk masterbatch (butiran) pada WPC diklaim lebih ramah lingkungan. Hal ini didasarkan pada proses komposisi dengan mesin extrusion yang membuat lingkungan produksi lebih sehat dikarenakan tidak ada debu warna yang terhirup oleh karyawan.

Satu hal lain yang menjadi nilai plus WPC adalah penggunaan limbah dari serbuk pabrik furniture dan pengrajin kayu jati, bukan hasil dari penggundulan hutan secara langsung. Namun akan timbul pertanyaan terkait bahan limbah yang diperoleh dari pabrik furniture dan pengrajin jati,

“bagaimana pabrik atau para pengrajin tersebut memperoleh bahan baku kayu?”

“Jika kayu jati yang digunakan merupakan hasil dari penggundulan hutan atau illegal logging apakah limbahnya tidak terkait dengan kegiatan terlarang itu? atau limbahnya bukan bagian dari dosa manusia pada alam?”

Meskipun hanya limbah, namun bahan pokok nya merupakan kesatuan dari asal yang sama. Walau kenyataannya sangat sulit untuk mendetiksi, produk WPC mana yang menggunakan limbah jati yang berasal dari hasil illegal logging dan mana yang bukan.

 

Don’t (just) recyle, think first! WPC 100% Recyclable

Salah satu pertanyaan di forum diskusi terkati WPC yang mengerutkan kening rekan kerja saya adalah masalah daur ulang. Dari informasi yang saya dapatkan, wood plastic composite 100% dapat didaur ulang. Dengan proses khusus, bahan HDPE pada WPC bisa diolah kembali menjadi biji plastik.

Biji plastik dari hasil olahan limbah WPC dapat kembali digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi WPC. Hal ini tentunya bermanfaat karena dapat mengurangi penggunahan bahan baku baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan dan emisi gas rumah kaca.

 

Emisi Pembuatan WPC Lebih Tinggi

Ada satu informasi yang cukup mengejutkan bagi saya. Data dari Konsorsium untuk Penelitian pada Bahan Industri Terbarukan, sebuah kemitraan publik-swasta yang berbasis di University of Washington di Seattle, menunjukkan bahwa emisi dari pembuatan kayu plastik 45-330% lebih tinggi daripada produksi redwood, tergantung pada apakah plastik didaur ulang dan sejauh mana itu dilengkapi dengan bahan kayu [1].

Sayang nya informasi tersebut masih kurang lengkap. Andai saja dilengkapi dengan data-data proses produksi yang seperti apa atau mesin produksi jenis apa yang menyumbangkan emisi tinggi sehingga dapat menjadi rujukan bagi produsen WPC dalam menentukan kebijakan produksinya.

 

***

Dari informasi-informasi yang saya kumpulkan, saya coba menarik kesimpulan bahwa tidak ada jaminan produk WPC itu sepenuhnya ramah lingkungan. Secara produk WPC memang lebih ramah lingkungan, namun secara proses produksi belum dapat diberi jaminan “hijau”. Hal yang perlu menjadi konsen produsen WPC adalah emisi dari mesin yang digunakan untuk melakukan proses produksi.

Dalam hal ini diperlukan peran pemerintah untuk membuat kebijakan “go green” perihal proses produksi WPC. Perlu ada standarisasi pada mesin-mesin yang digunakan, uji emisi secara berkala dan pengawasan serta penindakan terhadap proses illegal logging yang menjadi musuh utama anak cucu kita.

Kebijaksanaan produsen dan kecerdasan konsumen adalah dua hal penting yang dibutuhkan bumi ini untuk bertahan bagi genarasi selanjutnya. Sebagai konsumen harus lebih proaktif mencari informasi mengenai produk yang akan digunakan, terlebih guna mendukung kampanye “go green”. Konsumen harus berani menolak menggunakan produk yang tidak bersahabat dengan alam walaupun dengan iming-iming harga lebih murah.

Mungkin saja hari ini kita bisa merasa bahagia membeli produk yang murah, namun pernah kah terpikirkan bagaimana menderitanya anak cucu kita membayar mahal dampak dari keserakahan kita hari ini?

Berperilaku “hidup hijau” memang susah, tapi lebih susah jika bumi ini sudah tidak hijau lagi.

Ajakan untuk “hidup hijau” adalah pesan yang tulus dari alam. Banyak nya bencana yang timbul akibat kerusakan lingkungan adalah Sabda alam yang memanggil kita untuk berpikir cerdas, berperilaku cerdas, berpikir hijau dan berperilaku hijau saat ini juga!

 

***

Sumber rujukan :

[1] ‘Plastic wood’ is no green guarantee (http://www.nature.com/news/plastic-wood-is-no-green-guarantee-1.13129)