Ramah Lingkungan dengan Mainan Tradisional

0
2022

Pernahkan kalian memainkan mainan tembak-tembakan dari batang daun pisang?

Seperti slogan yang sekarang lagi trend, “Masa kecil kalian bahagia”. Itu bukanlah hanya sebuah semboyan atau slogan kosong belaka. Mungkin tidak kita sadari bahwa mainan–mainan tersebut, walaupun sederhana dan murah, juga aman dan ramah lingkungan. Mainan–mainan tersebut kita mainkan secara berkelompok dengan kawan-kawan kita, berlari, bekerjasama, serta belajar saling memahami, disamping kita melakukan olah tubuh serta melatih kreatifitas kita. Bahan-bahan mainan tersebut sangat mudah kita dapatkan di sekitar kita, seperti batang bambu, batang daun pisang, daun kelapa, dan lain-lain. Bagaimana bentuk serta cara kita memainkan, bebas sesuai dengan keinginan kita. Mainan-mainan ini tentunya sangat ramah lingkungan, residu dari mainan ini sangat aman bagi lingkungan. Karena bahan-bahan mainan ini langsung kita dapatkan dari alam serta dapat dengan cepat diperbaharui atau tumbuh kembali. Bahan-bahan ini dapat mudah melebur dengan tanah serta dapat menambah unsure hara didalamnya. Itulah mainan jadul kita dulu, walaupun sederhana namun dapat memberikan banyak manfaat untuk kita, juga lingkungan.

Lalu bagaimana dengan mainan anak-anak sekarang?

Kita semua tahu dan banyak kita jumpai disekitar kita, mainan-mainan  tradisional tersebut sudah sangat jarang sekali. Banyak mainan-mainan anak-anak sekarang terbuat dari bahan plastik. Sekecil apapun mainan itu berbahan plastik. Memang mainan-mainan tersebut ringan dan lentur saat dimainkan, namun tahukah kita bahwa bahan yang terkandung didalamnya sangat berbahaya untuk anak-anak.  Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang tua sudah mengetahui  risiko berbahaya mainan plastik. Aturan pelarangan penggunaan zat kimia berbahaya pun sudah mulai digalakkan. Tapi, masih saja ada produk mainan dengan kandungan bahan beracun beredar di pasaran.

Disinilah pentingnya sikap cermat dan teliti sebagai konsumen yang cedas dalam meilih mainan yang baik untuk anak-anak kita. Mengingat banjir mainan tersebut di pasaran saat ini seperti tidak terbendung. Kementerian Perdagangan melaporkan nilai impor produk mainan mencapai US$ 70 juta-75 juta atau lebih rendah dari nilai ekspor mainan lokal yang tercatat menembus angka US$ 60 juta setara Rp 680,4 miliar hingga Agustus 2013. Mayoritas produk mainan impor berasal dari Tiongkok dan sekitar 90%-nya berbahan dasar plastik yang tak terjamin kualitasnya. Ironisnya, mainan impor asal Tiongkok tersebut, banyak mengandung bahan berbahaya. Berdasarkan penelitian PT Sucofindo, salah satu Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) SNI Mainan Anak, ditemukan bahwa mainan tersebut mengandung bahan kimia yang bersifat karsinogenik, mutagenik, dan teratogenik. Disamping itu dari segi bentuk yang kecil, lancip, tajam serta mudah tertelan adalah contoh bahaya lain dari mainan-mainan ini. Harga yang murah meriah sepertinya membuat masyarakat kita cenderung kurang peduli dan menyadari bahaya yang terkandung dalam mainan tersebut.

Dari segi lingkungan, bahan plastik merupakan bahan yang sangat sulit untuk lebur dengan tanah. Butuh beribu-ribu tahun agar tanah dapat menetralisir residu berbahan plastik ini. Coba kita bayangkan dengan membanjirnya mainan plastik ini yang berasal dri negeri Tiongkok tersebut, Indonesia seperti sebuah tanah lapang tempat pembuangan residu plastik serta bahan berbahaya mainan-mainan ini. Hmmmm sangat tidak nyaman bukan?

Sebagai generasi yang mengenal lebih dekat dengan mainan-mainan tradisional, ada baiknya kita ajarkan serta bimbing anak-anak dan adik-adik kita untuk mengenal mainan tradisional. Mainan yang membawa suasana kebersamaan, melatih kreatifitas juga lebih mengenalkan mereka kepada alam. Sekaligus mengenalkan kepada generasi adik-adik kita tentang manfaat alam bagi kehidupan kita. Don’t (Just) Recycle! Think First.