Tidak Semua CFL itu Ramah Lingkungan

1
741
Bungkus CFL 5 watt yang ternyata masih tersimpan.
Bungkus CFL 5 watt yang ternyata masih tersimpan.

CFL adalah singkatan dari Compact Fluorescent Light atau biasa disebut lampu hemat energi. Kenapa hemat energi? Karena cahaya yang dihasilkan jauh lebih terang daripada bola lampu biasa pada daya yang sama.

Bungkus CFL 5 watt yang ternyata masih tersimpan.
Bungkus CFL 5 watt yang ternyata masih tersimpan.

Aku memiliki pengalaman dengan CFL ini, pada saat pertama kali di Jogja. Sebelumnya aku tinggal di Madiun. Di rumah, keluargaku tidak terlalu menyukai membeli barang yang mahal. Memang sih memakai CFL juga, tapi tidak mau membeli yang paling bagus. Paling hanya membeli yang murah, seharga hanya 1/6 dari yang paling mahal.

Akibatnya bisa ditebak, CFL itu selalu rusak kurang dari satu tahun, bahkan rata-rata hanya 4-5 bulan saja. Belajar dari pengalaman itu, ketika pertama kali tiba di Jogja dan nge-kost sendiri, aku bertekad membeli CFL yang lebih baik. Kebetulan sekali saat itu kamarku tidak ada lampunya, pastinya diambil oleh si penyewa sebelumnya.

Harga selalu berbanding kualitas

Aku membeli CFL P****** dengan jenis tornado-nya itu. Itu lho, yang bagian tabungnya melingkar-lingkar seperti spiral. Saat memasang CFL tersebut, penanggalan menunjukkan strong>bulan Februari tahun 2010, aku memasang CFL itu untuk pertama kalinya. CFL yang aku pasang hanya berdaya 11 watt, namun sangat terang sekali.

Pemakaian normal rata-rata sekitar 6-7 jam sehari, sekitar jam 6 sore sampai 12 malam atau terkadang jam 1 pagi. Kalau aku keluar kost, pasti lampu aku matikan dan kalo tidur selalu dalam gelap. Baru kemudian sekitar bulan November tahun 2013, CFL yang menerangi kamarku tersebut berhenti beroperasi.

Jika dihitung, CFL yang aku beli tersebut beroperasi selama 45 bulan atau kurang lebih 8100 jam dengan pemakaian rata-rata diatas. Waktu itu aku beli sekitar 35-38 ribu rupiah (sedikit lupa), sehingga biaya pokok CFL tersebut hanya 4,6 rupiah saja per jam. Belum termasuk daya listriknya yang tidak seberapa, lha wong cuma 11 watt saja.

Don’t just buy, think first!

Hal yang terpenting dalam pengalamanku ini adalah adalah membutuhkan waktu cukup lama “nyampah” CFL. Jika sebelumnya di rumah selalu membuang CFL setiap 4-5 bulan, sekarang baru 45 bulan aku membuang CFL. Itupun tidak sepenuhnya aku buang karena kutukarkan ke “dokter lampu” dengan dua buah CFL hasil rekondisi. Meskipun pada akhirnya kedua CFL itu juga hanya bertahan sekitar 4-5 bulan. Hahaha.

Perlu diketahui, CFL memiliki kandungan merkuri (logam berat) di dalam tabungnya. Dan bila pecah, maka akan masuk ke dalam tanah, larut bersama air, kemudian bisa masuk ke dalam sumber air tanah. Memang kandungannya sangat sedikit tiap CFL-nya, tapi kalau yang dibuang banyak, ya sama saja, kan? Maka dari itu, membeli CFL yang awet, meskipun “terlihat lebih mahal” bisa membantu menyelamatkan lingkungan. Khusus yang di Jogja, bisa membantu gerakan #JogjaHijau juga, lho.

Don’t (Just) Recycle! Think First

Masih berkaitan dengan CFL, ternyata penyakit “pelit” keluargaku tidak dengan mudah dihentikan. Bersamaan dengan CFL yang tornado itu, lampu teras kamar dan kamar mandiku masih pakai CFL merek abal-abal yang harganya murah, hanya” 5 ribu rupiah. Terlihat hemat, kan? Padahal sebenarnya tidak demikian.

CFL dari DL tersebut hanya bertahan sekitar 4-5 bulan saja. Apalagi kamar mandi, paling hanya bertahan 3 bulan. Ternyata CFL tersebut tidak tahan terhadap kondisi hidup-mati dalam waktu yang cepat seperti pada kamar mandi. Jika setiap 5 bulan harus keluar 5 ribu rupiah, berapa yang dibutuhkan dalam 45 bulan? Tentu saja 45 ribu. Ini lebih mahal dari harga CFL berdaya 11 watt untuk penerangan di kamar.

Untungnya tidak sampai dua kali ganti CFL, aku langsung sadar dan segera membeli CFL dengan merek yang sama dengan daya yang berbeda, cuma 5 watt. Tetapi di kamar mandiku yang berukuran 1×2 meter, CFL itu sudah terang sekali. Begitu pula di teras kamar. Yang lebih ajaib, keduanya belum berhenti beroperasi hingga saat ini, kurang lebih 40 bulan. Keren, kan?

Nah, begitulah pengalamanku dengan CFL. Ternyata barang mahal tidak selamanya benar-benar mahal, tergantung bagaimana kita menghitungnya. Bagaimana dengan pengalaman kalian?

1 COMMENT