2 Tantangan untuk Hidup dengan Lebih Membumi

15
1424

Tangannya dengan cepat memasukkan sebotol cairan pencuci piring ke dalam keranjang. Botol ini pun sukses menemani shampo, sabun mandi, pasta gigi, detergen, serta pengharum pakaian yang telah lebih dahulu di sana. Wanita itu kembali melangkah dan berbelok di lorong rak berikutnya, tempat makanan-makanan kemasan. Dengan melihat sekilas ia berhasil menemukan snack-snack yang biasa ia konsumsi. Lalu dimasukkan ke keranjang. Sembari melangkah ia sempatkan diri untuk meraih beberapa minuman kemasan. Kemudian ia berjalan menuju meja kasir dan melihat bayangan pengharum ruangan. Dengan ragu ia menatap sebentar. Pikirannya mengatakan ia tidak perlu namun hatinya membalas siapa tahu perlu. Syuutt, pengharum itu akhirnya ikut bersama di dalam keranjang.


Pernah melakukan atau melihat hal seperti ini? Sering? Bisa jadi wanita itu saudaramu, orangtuamu, teman, pasangan, atau bahkan dirimu sendiri.

Dengan jujur saya mengatakan wanita itu adalah cerminan saya sendiri saat berbelanja.

Saya hidup dan besar di jaman yang modern dan serba praktis ini. Sadar tidak sadar saya pun mengikuti polanya. Termasuk dalam belanja. Saya lebih nyaman ke supermarket dibandingkan dengan pasar tradisional. Dalam membeli pun saya cenderung memilih makanan atau barang yang instan. Alasannya biar ngga ribet dan praktis.

Dulu, setiap pulang dari berbelanja yang ada dalam hati saya adalah perasaan lega karena berhasil memenuhi kebutuhan dan juga bahagia karena bisa refreshing (alasan wanita , eh saya). Sekarang, tepatnya setelah saya mulai belajar untuk hidup dengan lebih membumi, pikiran itupun berubah. Saya menyadari bahwa dalam sekantong belanjaan yang saya bawa bukan hanya berisi belanjaan saja, namun juga calon sampah masa depan yang sulit diuraikan. Butuh puluhan, ratusan, ribuan tahun, bahkan lebih. Dan itu baru sampah dari belanjaan saya, salah seorang penghuni bumi masa kini. Belum lagi dengan penghuni bumi yang lain dimanapun yang tengah menenteng calon sampah sulit urai.

Jika membayangkan hal ini saya lantas ngelus-elus perut sambil bertanya dalam hati “bagaimana ya bumi yang dihuni anak-cucu saya kelak?”

duh, ngungsi ke planet mana? gambar: doc. pribadi
duh, ngungsi ke planet mana?
gambar: doc. pribadi

Beberapa waktu sebelum ini  sebenarnya tidak ada beban bagi saya jika membeli barang dengan kemasan yang tidak bisa diurai, toh saya bisa me-recycle sampah-sampah ini pikir saya. Terlebih sudah banyak panduan untuk mengolah/mengubah sisa kemasan menjadi benda lain yang bermanfaat. Setidaknya bisa membantu mengurangi masalah sampah. Namun lantas saya berkaca pada diri sendiri. Apa benar selama ini saya sudah/bisa melakukannya? Jika diingat-ingat niat itu hanya sekadar niat belaka. Botol, plastik, kertas, dll yang sudah saya rencanakan didaur ulang menjadi benda lain pada akhirnya tetap berujung ke tempat sampah. Hiks. Mungkin benar slogan

Don’t (just) recycle, think first.

Sebelum benar-benar bisa beraksi (me-recycle, rasanya harus dipikirkan dua kali) dalam membeli barang yang akhirnya hanya menyisakan sampah yang sulit terurai. Memang mencegah lebih baik daripada mengobati.

Lagipula permasalahan ini bukan hanya soal sampah saja. Melainkan juga hal lain yang kadang terlewatkan. Soal zat yang terkandung di dalam barang-barang modern sekarang ini. Hal ini lah yang sering sekali saya abaikan. Jarang saya mempelajari dengan seksama terlebih dahulu soal kandungan zat yang ada dalam barang yang saya beli. Bahayakah? Seberapa bahayanya bagi manusia, alam, bumi?

Ibu saya pernah bilang “ Jaman dulu itu ngga ada sakit-sakit aneh kayak sekarang. Masak cuma pake garam gula, nyuci pakai lerak, kalau pingin minuman yang berasa bikin setup buah. Kalau sekarang banyak sakit aneh-aneh ya karena ini” ucapnya sambil menunjuk tumpukan hasil belanjaan saya.

Mau tidak mau saya mengiyakan dalam hati. Sudah terbukti, penyakit mematikan, seperti kanker, sekarang ini meningkat salah satunya karena pola hidup. Entah mengonsumsi maupun mengenakan barang yang mengandung zat kimia selama sekian tahun.

Sekali lagi benar-benar harus memahami –> Don’t (just) recycle, think first


Hidup dengan lebih membumi, dua tantangan untuk diri sendiri

Saya menyadari, mengubah secara langsung pola hidup bukan perkara mudah. Mengubah sedikit saja sulit apalagi sekaligus. Untuk itu saya membuat dua tantangan untuk diri saya sendiri sebagai seorang wanita sekaligus calon ibu.  Tantangan ini sifatnya bukan sekali tindakan melainkan tantangan untuk membiasakan perilaku hidup lebih ramah lingkungan. 2 tantangan yang saya buat itu adalah:

  • Mengurangi pemakaian pembalut sekali pakai dan memakai mens-pad kain
  • Membeli diapers kain untuk calon dedek bayi

       Dua tantangan ini yang saya akan lakukan untuk belajar hidup lebih ramah lingkungan. Sudah sejak lama sebenarnya saya tahu bahwa pembalut sekali pakai sebagian besar mengandung zat yang berbahaya. Salah satunya, zat Dioxin yang berpotensi menyebabkan  risiko terhadap kanker serviks.  Sedangkan popok bayi sekali pakai ini mengandung zat kimia klorin yang bisa menyebabkan bayi mengalami ruam, iritasi, dan lecet. Baik pembalut maupun popok sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk menguraikannya, hingga  500 tahun. Selain itu keduanya pun mengandung ‘bleaching‘ zat kimia pemutih yang juga tidak baik untuk kesehatan. Sebenarnya dengan melakukan tantangan ini efek positifnya lebih banyak bukan?

Ya, mungkin saya tidak serta merta mengubah, tetapi  akan akan belajar membiasakan. Sebelum benar-benar meninggalkan produk instan ini, saya akan mengatur porsinya. Semoga sedikit demi sedikit bisa total berperilaku ramah lingkungan.

Semoga bisa konsisten dan menular ke gaya hidup ramah lingkungan yang lainnya.


Ini adalah #idehijau untuk #jogjahijau dari saya, bagaimana denganmu?

Avignam Jagad Samagram

Semoga selamatlah alam beserta isinya

Salam,

Kachan

 

15 COMMENTS

  1. kadang kita terlalu beorientasi terhadap diri kita sendiri dan lupan dengan apa yang akan kita tinggalkan, bagaikan peribahasa gadjah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan ilmu yang bermanfaat untuk anak cucunya, hendaklah kita berfikir bijak untuk menggunakan sesuatu dengan tepat guna baik barang baru maupun bekas…

  2. kalau semua orang mau bawa kantong belanja sendiri dari rumah, mungkin akan banyak sekali sampah plastik yang berhasil di kurangi. bayangin aja dalam sehari berapa kantong plastik yg kita dapatkan dari kegiatan belanja. ngeri ya…mak..sampah makin menggunung dan masih banyak yang tidak perduli

    • Bener banget..apalagi kalau belanja di pasar tradisional, tiap brenti di penjual pasti dapet kantong plastik lagi.
      Bahkan kadang si penjual yang ngga tega katanya kalau ngga ngasih kantong. Mungkin butuh kampanye juga ya di pasar tradisional.
      Pasti menarik kalau ada pasar tradisional yang mengusung gaya hidup ‘go green’, salah satunya ngga dikasih kantong kalau blanja di sana 😀

  3. Aku juga berusaha mengurango sampah dengan membawa kantongan sendiri saat belanja. Beli makanan bawa wadah sendiri, berusaha mengurangi pemakaian pospak dan pembalut, mudah2an di kedepannya bisa melakukan yang lebih dari ini aamiin

  4. Don’t (just) thin recycle….sejak beberapa waktu lalu saya juga kepikiran mengenai konteks ini. KAlau pola pikir kita concern ” kan bisa di recycle” kemudian merasa sah-sah saja menggunakan bahan-bahan yang tdk ramah lingkungan….then apa yg akan terjadi sekian dasa warsa ke depan dengan lingkungan kita? KAn recycle hanya soal delay time (bekas) barang tersebut di buang. Ketika reform, re-use dsb yg setipe dengan konsep recycle sdh maksimal (mentok), toh tetap harus dibuang kan? It’s time utk mulai THINK FIRST dan minimalkan penggunaan barang-barang yg tdk ramah lingkungan, minimal bisa dimulai dengan mengurangi plastik