Hindari Aerosol, Selamatkan Diri dan Atmosfer Kita

0
3741
Produk tanpa aerosol. Parfum dan Cologne.
Produk tanpa aerosol. Parfum dan Cologne.

Kita telah akrab dengan aerosol di kehidupan sehari-hari kita. Entah kita menyadari atau tidak, kita telah menggunakannya. Aerosol ada pada produk yang berbentuk semprotan, seperti parfum, anti-nyamuk, deodoran, pengharum ruangan, dan produk-produk sejenis.

Apa sih sebenarnya aerosol itu?

Aerosol atau biasa disebut propeler adalah zat mudah mengembang yang digunakan untuk mendorong zat utama untuk keluar dari suatu wadah tertutup. Masih ingat dengan cat semprot? Apakah kita perlu memompanya supaya catnya keluar dari kaleng? Tidak kan? Itu karena di dalamnya ada zat yang bertekanan tinggi dan mudah mengembang. Zat inilah yang mendorong cat keluar dari lubang kecil yang terbuka saat dipencet.

Produk dengan aerosol di dalamnya.
Produk dengan aerosol di dalamnya. Anti serangga dan chain wax.

Sebenarnya sih aerosol tidak berbahaya bagi manusia. Kecuali ada manusia gila yang sengaja menghirup aerosol dari satu botol cat semprot, manusia tidak akan mati jika aerosol terhirup dalam sistem pernafasannya. Tetapi dibalik tampangnya yang “jinak” itu, ternyata aerosol mengandung bahaya terhadap atmosfir. Beberapa jenis bahan aeorosol, terutama yang mengandung CFC berkontribusi terhadap kerusakan pada lapisan ozon.

Don’t (Just) Recycle! Think First

Suatu ketika ada seseorang pernah bilang ke saya, “ah, seberapa banyak sih aerosol yang aku lepas ke udara? Ribet amat ngurusin hal ga penting!” katanya sambil bersungut-sungut saat saya mengingatkan tentang pemakaian aerosol. Alasannya terlihat masuk akal, bukan? Tetapi coba pikirkan ini. Jika ada 200 juta orang berpikiran seperti itu dan melepas setidaknya 10 gram aerosol ke atmosfer, berapa akumulasi aerosol per harinya? Cukup besar, kan? Pikirkanlah itu.

Produk tanpa aerosol. Parfum dan Cologne.
Produk tanpa aerosol. Parfum dan Cologne.

Sebagaimana tindakan buruk kecil yang bisa menjadi masalah besar jika dilakukan bersama-sama, demikian pula tindakan baik yang dilakukan bersama-sama. Memulai untuk menggunakan produk non-aerosol dan menggantinya dengan semprotan manual tentu lebih baik. Aku rasa jempol kita masih kuat untuk menekan semprotan manual, kan? Itung-itung olahraga jempol. Diatas adalah gambar produk cologne dan parfum yang aku gunakan, keduanya tanpa aerosol.

Potensi bahaya lainnya pada aerosol

Selain berpotensi merusak atmosfer, produk-produk yang menggunakan aerosol di dalamnya juga cenderung membutuhkan penanganan khusus. Pernah suatu ketika, seorang teman kost membuang kaleng bekas anti-serangga yang berukuran kecil, namun terbungkus tas plastik. Bapak kost yang punya kebiasaan membakar sampah, tidak tahu kalau ada kaleng bekas anti-serangga di dalamnya, langsung main lempar saja ke dalam api.

Akibatnya bisa ditebak, kaleng bekas anti-serangga tersebut meledak. Ledakannya cukup keras untuk membuat seisi kost kaget. Beberapa benda tajam terlempar karena tekanan yang tiba-tiba. Untung sekali bapak kost tidak terluka sedikitpun. Mulai saat itu bapak kost mengingatkan kami untuk tidak membuang botol/kaleng “semprotan” dengan dibungkus plastik.

Ada lagi sebuah cerita mengenai kaleng berisi aerosol yang meledak karena panas di dalam mobil. Apakah cerita ini hoax atau tidak, tetapi hal itu memungkinkan secara teori. Tidak perlu menunggu ozon di lapisan atmosfer rusak, aerosol bisa saja membunuh kita jika tidak ditangani dengan baik. Bagaimana? Masih mau pakai produk dengan aerosol di dalamnya? Think first, act later. 🙂

#JogjaHijau #IdeHijau