Sustainable Consumption, stimulator ekonomi yang berkelanjutan

0
920

“Does your brain need a warm up? Your car does not!” – Pikiran Anda perlu pemanasan? Mobil Anda tidak!
Kalimat ini tidak lama lagi akan sering muncul di media sosial Twitter, Facebook, YouTube, Pinterest, dll.

Sustainable Consumption, stimulator ekonomi yang berkelanjutan
Berbagai usaha terus dilakukan untuk mendorong industri yang berkelanjutan melalui penggunaan bahan baku yang lebih ramah lingkungan, proses produksi yang lebih ramah lingkungan, maupun meningkatkan penanganan limbah produksi. Dukungan juga terus diberikan untuk mendorong diproduksinya produk-produk yang ramah lingkungan agar lebih banyak tersedia di pasar.

Masalahnya, berbagai usaha tersebut sering mengalami hambatan karena tidak ada mekanisme pasar yang mendorong iklim usaha menjadi lebih menarik bagi industri (produsen). Permintaan pasar akan produk-produk yang ramah lingkungan masih sangat terbatas. Jangankan permintaan atas proses produksi yang lebih ramah lingkungan, permintaan (domestik) akan produk akhir yang ramah lingkungan pun masih sangat eksklusif. Dengan alasan itu, jelaslah bahwa konsumen memiliki peran penting dalam membangun sistem ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan. Kita harus realistis bahwa mendorong produsen saja hanya akan menciptakan “etalase”, bukan sistem.

Adanya permintaan konsumen akan produk dan jasa yang berkelanjutan akan mempercepat dan menggairahkan mekanisme pasar sehingga mendorong ekonomi dan pembangunan berkelanjutan lebih cepat.

Sustainable Consumption, dalam Bahasa Indonesia berarti konsumsi yang berkelanjutan. Untuk membuat lebih mudah diingat, sebut saja sebagai Konsumsi Hijau, tidak hanya terbatas pada pemilihan produk. Kontribusi konsumen adalah juga pada saat menggunakan serta memperlakukan buangan (sampah) nya.