Don’t (Just) Recycle! Think First

0
849

Menyadari pentingnya peran konsumen (masyarakat) sebagai pendorong pasar, kampanye-kampanye terkait konsumsi hijau pun mulai bermunculan. Baik oleh pemerintah maupun industri dan lembaga non-pemerintah. Tiba-tiba saja, masyarakat dibanjiri informasi mengenai isu-isu sejenis. Terminologi Climate Change (perubahan iklim) menjadi populer, baik dengan pemahaman mendasar maupun mendalam.
Lalu, apakah seluruh pemahaman yang dimiliki masyarakat itu otomatis menggerakkan aksi atau mengubah perilaku? Kenyataannya tidak semudah itu. Bagi sebagian besar masyarakat, isu perubahan iklim merupakan sesuatu yang sangat jauh dari kehidupan sehari-hari dan sulit dicerna. Menanam pohon, tindakan aksi yang sering diperkenalkan sebagai bentuk kontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan, lebih sering berhasil di tahap proyek bersama.

Konsumsi Hijau juga sering diperkenalkan sebagai “recycle” atau daur ulang. Sebagai solusi atas semakin banyaknya sampah yang menumpuk tentu saja aksi ini sangat tepat. Namun demikian, daur ulang yang harus dimulai dengan pemilahan sampah memerlukan sistem yang tepat (Surabaya adalah salah satu praktik terbaik untuk sistem ini) serta lebih mudah dilakukan bersama, bukan inisiatif pribadi.

Dengan menggunakan produk-produk hemat energi serta menggunakan produk-produk elektronik dengan cara yang lebih hemat energi, konsumen akan menghemat pemakaian listrik dengan signifikan. Pesan lain yang akan diangkat adalah dengan menghindari sampah yang sulit didaur-ulang seperti plastik dan terlebih lagi kemasan sachet. Mereduksi sampah adalah tindakan awal yang bisa langsung dilakukan oleh konsumen. Hal lain misalnya dengan mulai membiasakan diri untuk tidak memanaskan kendaraan sebelum digunakan. Memanaskan kendaraan hanya akan menguras bahan bakar, menimbulkan polusi dan kebisingan.